Sekolah untuk Bekerja

Assalamuallikum! 🙂

Uda lama nggak nulis, hehe kliseee

Saya udah lulus kuliah dari bulan oktober tahun lalu, dan alhamdulillah setelah lulus kuliah nggak harus galau mikir cari kerjaan, mau kerja apa, mau kerja dimana. Tepat setelah saya dinyatakan lulus dalam sidang skripsi saya juga diterima bekerja disebuah perusahaan furniture factory yang baru aja berdiri di kawasan industri dekat rumah saya, masih satu kelurahan kok 🙂 Sebagai apa? Saya disitu sebagai admin, admin produksi, sekaligus assist PPIC. What is PPIC ? Okay, PPIC adalah kepanjangan dari  Production Planning and Inventory Control. See? Silahkan jabarkan sendiri definisinya. Oh tentu aja, pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang saya cari, dan bukan bermaksud menjadikan batu lompatan atau apalah, it’s just not my passion, apalagi disini saya termasuk karyawan dalam tahun awal, semua serba baru, termasuk sistem yang belum terbentuk, personil-personil office yang juga semi-fresh. Tapi bukan itu yang mau saya bahas, so leave it!

Saya berasal dari keluarga buruh yang biasa-biasa aja, nggak berlebihan dalam hal uang tapi juga nggak kekurangan. Saat kecil dulu cita-cita saya itu jadi astronot, ketinggian banget kan? Harusnya saya belajar Sains, tapi saya justru sukanya belajar IPS! Saat SMP cita-cita saya berubah, saya pengen jadi pengusaha. Tapi saat SMP itulah saya lagi suka-suka nya sama SAINS apalagi biologi yang mempelajari organ-organ dalam, aliran darah, jantung, dan penyakit-penyakit dalam semacam itu. Hobi saya aja baca komik, bikin PR males-malesan, semacam maruko gitu deh..

Lulus SMP saya nggak mau masuk SMA di dekat rumah, alasan saya selain karena SMA itu udah terlalu biasa, nanti setelah lulus ujung-ujungnya saya bakal kerja di pabrik jadi buruh pabrik sama seperti Bapak, Ibuk, dan Abang saya. Kalaupun SMA saya juga maunya yang RSBI, biar lebih keren aja hehehe… Nggak kok, saya tetep mau ke SMK, awalnya saya pengen banget masuk ke SMK 7 ambil jurusan teknik gambar, siapa tahu kan bisa jadi arsitek, atau minimal asistennya. Walaupun nilai matematika saya memenuhi persyaratan, tapi saya kurang suka sama matematika, dan teknik gambar itu membutuhkan kemampuan berhitung yang tinggi (cuma denger kata orang sih..) dan ada yang bilang kalau mau masuk SMK 7 itu harus tinggi minimal… apapun yang mencantumkan kata-kata tinggi minimal, palah daya saya yang boncel ini, minder! Well, akhirnya saya di arahkan ke SMK Pariwisata, SMK 6, udah RSBI lhooo… keren nggak tuh! Saya pilih jurusan Tata Boga dengan alasan Tata Boga nggak butuh hitung-hitungan njelimet kayak bikin pola di Tata Busana, dan nggak butuh dandan lha wong sya kulitnya hitam sawo matang gini, maluuu. Sejak itu cita-cita saya jadi koki atau seorang patissier, punya coffeeshop atau italian resto, sippp kerenlah! Tapi ternyata saat belajar mengajar dibagi dengan kelompok, ada pepatah bilang dalam setiap kelompok pasti ada yang dominan, sadly that’s not me. Cita-cita itu seketika buram, tapi cita-cita jadi entrepreneur tetep nggak pudar.

Putar-putar otak setelah lulus, karena untuk lulusan SMK Tata Boga peluang kerjanya nggak jauh-jauh dari pelayan restoran atau koki yang memang dimulai dari titik terbawah. Manajemen bisnis mungkin cocok untuk saya yang berjiwa pedagang, so I take it, so easy, karena nggak terlalu banyak berhitung juga dan kayaknya cerah banget berwirausaha. Setelah lulus dan merasakan realita di dunia kerja membuat saya muak dan menyesali waktu-waktu saya yang sudah terbuang percuma.

Umur saya sudah 23 tahun, saya belum punya apa-apa, sedangkan teman-teman saya sudah sukses bisa beli rumah dan mobil di usia yang sama dengan saya, bukan dari bisnis MLM, atau menikah dengan orang yang lebih tajir tentunya ya… saya berpikir ngapain aja sih saya dulu waktu sekolah, nggak ada yang nyantol sama sekalli, cita-cita nggak jelas, cita-cita nya apa yang dipelajari apa, semuanya nggak nyambung. Kenapa dulu saya nggak fokus banget, saya pikir hidup saya semanya serba nanggung, saya juga nyesel kenapa nggak beraniin ambil teknik gambar. Saya nyesel kenapa waktu sekolah saya sia-sia in pulang sekolah langsung tidur baca komik, padahal saya dapat tawaran keja sambilan di kedai martabak. Saya nyesel kenapa ambil manajemen, kenapa nggak akutansi sekalian. Saya nyesel kenapa waktu kuliah saya nggak aktif cari-cari tempat magang. Saya nyesel kenapa dulu saya remehin brevet pajak itu nggak penting ternyata sekarang butuh banget. Saya nyeseeeellll.

Saya sadar waktu kecil saya bisa memilih mau jadi apa, tapi sayang saya begitu egois dengan pilihan-pilihan saya yang tanpa perhitungan panjang. Indeed, sekolah itu untuk mencari ilmu, tapi juga harapan untuk mencari penghidupan yang lebih baik dan cerah. Nggak munafik juga, kita sekolah memang buat bekal bekerja, buat cari uang, we will make it worth it  bagaimanapun caranya.Nggak perlu polos-polos lah ditanyain sekolah-kuliah buat apa? Ya buat kerja cari uang, sekarang kan nggak jamannya barter. Semua aspek harus dimulai dengan niat dan beberapa lembar kertas dan koin yang dinamakan uang.

Kecuali kalau saya anak dari orang tua yang kelebihan harta, sah-sah saja mungkin jika saya jika memilih apapun tanpa fokus. Tapi untuk saya mungkin itu nggak berlaku karena saya tahu diri, sampai kapan sih orang tua mau menyokong dana untuk saya terus menerus? No, It’s just temporary, I wanna make them proud, someday. It’s different case kalau kamu anak konglomerat, nah kalau bukan kamu dan saya memang harus fokus, cita-citamu apa ya harus fokus, biar masa depan nggak galau seperti saya.

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Sekolah untuk Bekerja

  1. waaah ternyata ga cuma aku aja yg waktu kecil punya cita-cita jadi astronot. tosssss duluuu!!
    tapi apa daya, dikasih jalan lain buat karir, jauh bgt dari kata astronot.

    masalah nyesel, ya, emang baru kerasa skrg, dan sayangnya, emang udh ga bisa diperbaiki.
    gapapa, buat pelajaran hidup aja. Semoga anak kita ga ngerasain nyesel seperti ibunya.

    1. Hhehehe iya Kak, kadang suka pengen nangisin masa lalu, dulu aku buang-buang waktu dan nggak ada hasilnya, sekarang susah nyari kerja lagi >,<

      Makanya sekarang aku selalu bilang ke calon-calon mahasiswa yg mau masuk kuliah, kuliah itu jangan buat main-main atau sekadar iseng karena petaruhannya ada di karir setelah lulus, sekali salah bakal buang waktu dan uang yang nggak sedikit.

      Btw, makasih udah mampir kak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s