Cara Melupakan Mantan

“Cara ngelupain mantan? Tinggal makan! Gini deh, mantan bisa terlupakan seiring berjalannya waktu, seiring dg kesibukan diri.. Mungkin ada titik” momen kenangan yang tak bisa terlupakan. Karna sepahit apapun endingnya km pernah menaruh rasa dan harap sama dia.” –Faizun-

“Aku sih cuek!” –Imam Hanafi-

“Mantan? Buang ke tong sampah 😀 ” –Inka Nuromavita-

“Ngelupain mantan? Cari pacar lagi donk!” – Elia-

“Ngelupain mantan itu.. harus sibuk sama hal lain. Kayak olahraga, gak usah dipikirin jangan stalk n unfollow semua akun mantan.” –Henni-

“Kalo aku harus dpt yg baru lagi baru bisa move on dari mantan :D” – Sitha-

“S.W.A.G (Selow Woles Anti Galau) “ –Amalina Rizki Intan-

coklat

Nggak semua orang merayakan tanggal 14 yang sering disebut dengan valentine a.k.a hari kasih sayang, taulah berapa persen perbandingan yang jomblo sama yang engga 😀  Yang gue suka saat hari yang dominan dengan warna pink adalah acara tv jadi bagus, seperti acara live musik yang kental akan nuansa romantis. He-em, I love romance!

Sayangnya tiap valentine gini, saya bawaanya baper mulu. Well, padahal udah 3 tahun lebih dan gue belom bisa lupa.. mantan juga bukan, apalagi pacar, dibilang patner bisnis enggak gitu juga. Seperti yang dibilang Faizun, Mungkin ada titik” momen kenangan yang tak bisa terlupakan, karena saking kuatnya memori itu terukir, kaya jadi scars dikulit gitu deh. Berbagai cara udah gue lakukan cuma buat ngelupain mantan, sampai gue rasanya pengen di hipnotis aja biar lupa kalo gue pernah punya mantan pacar atau gebetan-yang–gue-naksir-berat-waktu-kelas-sepuluh. Dari mulai..

Unfollow semua akun.

Seperti kata Henni, Unfollow semua akun, jangan stalk-stalk akun mantan. Udah gue unfollow, gue blokir semua. Ujung-ujungnya gue buka lagi karena gue kepo maksimal. Ngenesnya, justru gue yang di blokir sama mantan!

Menyibukan diri dengan olahraga.

Ide dari Henni emang tokcer. Gue pernah kok kecanduan olahraga sampai bisa lupa sama mantan plus bonus badan sehat bugar sekalian buang lemak. Lebih seger lagi, karena gue juga bisa cuci mata karena cogan-cogan bertebaran lagi jogging di sore hari.

Makan!

Banyak orang termasuk Faizun bilang ngelupain mantan dengan makan. Makan adalah cara paling nggak efektif buat ngelupain mantan. Ya kali… gue lagi enak-enak makan taunya itu makanan  yang dulu pernah gue makan bareng mantan, apalagi sepiring berdua, apalagi pernah disuapin, apalagi makanan yang dulu dimasak berdua. Uuuuhhh gagal!

Cuek!

Kalo ketemu sama mantan sih bisa aja pura-pura cuek.. tapi habis nyampe rumah masuk kamar, kebetulan kuota internet habis, lagi bokek pula, yakin masih bisa cuek dan nggak inget mantan????

Cari Pacar Lagi!

Buat gue, cari pacar lagi itu butuh usaha lebih. Seperti gue harus rajin olah raga dan rawat diri biar gue jadi agak cantik. Well, gue tipe orang yang percaya pepatah :”dari mata turun ke hati”. Kalo kamu cantik ato ganteng no problemo buat kamu, tinggal cari yang nyaman aja buat hati kamu.

Pada akhirnya kita harus membuka pergaulan dan membuka hati, bukan berarti membebaskan pergaulan. Kenangan mantan memang indah, tapi sakitnya disakitin mantan itu bener-bener nggak indah. Hanya saja, mencari lagi itu memang proses yang malesin, adaptasi lagi, gue bener-bener lemah dalam adaptasi. Buat gue cinta itu seperti kamar pribadi yang bikin nyaman buat ngabisin waktu berlama-berlama didalamnya, seberantakan apapun kamarnya, yang terpenting adalah rasa nyaman. Iya kan? Mantan mah apaan atuh, Cuma butiran debu, tiup aja ntar juga ilang sendiri 🙂

Ps. tulisan di atas berdasar survey iseng saya melalui broadcast bbm dengan partisipan adalah teman-teman dekat saya. Thanks to : Icund (Faizun), Intan, Inka, Elia, Kak Sitha, Mas Imam, dan Henni.

Ex’s and the Oh

“One, two, three, they gonna run back to me
Climbing over mountains and a-sailing over seas
One, two, three, they gonna run back to me
They always wanna come, but they never wanna leave

My ex’s and the oh, oh, oh’s they haunt me
Like gho-o-osts they want me to make ’em all
They won’t let go

Ex’s and the oh, oh, oh’s they haunt me
Like gho-o-osts they want me to make ’em all
They won’t let go
Ex’s and oh’s”

original

“Ex’s & Oh’s” menjadi lagu penyemangat awal tahun 2017, bisa dibilang lagu yang dinyanyikan oleh Elle King ini menjadi mood-booster gue di beberapa pagi gue akhir-akhir ini. Seperti biasa gue nggak bikin resolusi apapun, dan gue nggak menyesali apapun atas semua yang terjadi di tahun 2016. Tapi gue sangat bersyukur banget, banyak tawa dan bahagia sayaaaaaaa di tahun 2016 -selain dosbing yang nyebelin “waktu itu”. Yang penting gue lulus tepat waktu, walaupun seharusnya gue bisa wisuda di bulan april, tapi toh wisuda di bulan oktober juga sama aja. At least gue juga udah dapet kerjaan duluan sebelum lulus, itu juga berkah buat gue.

Gue masih sama Rio, belom putus dan semoga enggak akan pernah. Udah capek juga gue mencari dan pedekate, adaptasi lagi.. males. Intinya gue juga bersyukur Rio masih sabar ngadepin gue, dan gue juga masih sabar ngadepin dia yang suka drama. 😀

Semua baik-baik saja, kecuali gue udah nggak tinggal sendiri, gue balik tinggal di rumah sama keluarga. Udah nggak ada lagi acara berkebun, soalnya dirumah bener-bener nggak ada tempat, kan nggak mungkin juga gue berkebun di kamar :’D

Gue juga masih Arumi yang dulu, yang masih suka naik angkutan umum, yang masih suka kalap sendiri kalo lihat diskonan. Yang beda, sekarang gue lebih sering nonton film, terutama film-film jadul, kamu bisa lihat film-film apa aja yang udah gue lihat di facebook gue.

Yang paling penting juga, trafic blog gue ini juga meningkat padahal gue nggak pernah post apapun. And now, gue ucapin banyak makasih buat kalian yang udah berkunjung ke blog gue, baik itu karena kepepet atau butuh info buat kuliah di ex almamater gue. Thanks a lot 🙂

Berkebun ala anak kos

 

Assalamualaikum! 🙂

Saya punya cita-cita baru, mungkin saya ingin jadi petani dan tinggal di desa jika saya tua nanti (Insya Allah) -walaupun saya tidak ada background petani karena keluarga saya tidak ada yang menjadi petani. Hobi berkebun ini bermula dari proposal kewirausahaan saya uyang saya ajukan melalui P2BK Unisbank dan kebetulan menang walaupun tidak berlanjut, hehe 😀

Pada awalnya saya berpikir berkebun adalah sebuah hobi yang jorok, maka saya memulainya dengan membeli 2 set hidroponik kit -dengan sistem wick atau sumbu, kemudian saya membeli hidroponik yang sesungguhnya seharga 1,5 juta beserta tanamannya. Cerita sebenarnya, saya membeli hidroponik tersebut karena waktu itu kepepet untuk keperluan pameran/ekspo kewirausahaan di luar universitas, dan alhamdulillah sukses menarik perhatian walaupun saya masih belum tau apa-apa tentang tanaman. Sewaktu ditanya oleh juri (kebetulan juga dosen pertanian) tentang penyakit tanaman, saya saja tidak bisa menjawab, hehe cetek bangetlah pokoknya. Pssst jangan bilang siapa-siapa lho ya, berhubung 2 tahun sudah berlalu saya baru berani cerita hehehe tapi ini tetap rahasia diantara kita lho yaaa 😀

Kendala utama di kos saya adalah tikus! karena tikuslah percobaan kebun saya selalu gagal, nah dengan hidroponikpun juga tidak lebih baik karena saya repot membuat dan mengganti nutrisinya secara berkala -karena saya ini pemalas. Jadilah saya kembali bertanam secara konvensional, yaitu dengan tanah dan lebih organik karena tidak menggunakan pupuk atau nutrisi kimia seperti yang saya terapkan pada teknik hidroponik. Ternyata saya menemukan kesenangan tersendiri setelah berkebuh dengan tanah dibandingkan dengan hidroponik yang lebih bersih.

Pada awal tahun 2015 saya membuat resolusi dengan mengoleksi bunga mawar 5 warna. Setiap sebulan sekali saya pergi ke kawasan toko bunga dan buah di Kalisari, letaknya dekat dengan Katedral Tugu Muda/RS Karyadi untuk membeli bunga mawar sepaket dengan pot. Dari mawar kemudian saya juga mulai menanam sayuran walaupun lagi-lagi diganggu tikus, saya beli pot beserta tanah kemasan kiloan, maklum di kota sudah tidak ada tanah terbuka jadi tanahpun juga harus beli ^^

Dari semua tanaman yang saya tanam dari masih berupa benih satu-satunya yang bertahan adalah cabai, benih tersebut berasal dari sisa cabai yang didapat dari bonus gorengan dan sengaja dibuang kedalam pot. Setelah cabai-cabai itu berbibit -sangat banyak dan tumbuh walaupun agak lama, saya mulai mencoba lagi bertanam bawang merah. Bawang merah inipun adalah sisa bumbu yang hampir busuk jadi saya tanam dan tumbuh daunnya banyak sekali.Karena terlalu senang akhirnya saya potongin daun-daun bawang itu untuk saya masak, hehehe

Saya sama sekali tidak menggunakan pupuk, hanya tanah dan air lho. Oh iya pupuknya adalah sampah sayur yang dipotong kecil-kecil lalu ditaruh begitu saja di pot yang berisi tanaman bunga. Tanah dari bunga pun jadi lumayan subur dan saya gunakan itu untuk pembibitan, setelah berbibit saya akan pindahkan ke pot nya sendiri. Saat ini kami masih menggunakan pot plastik dan daur ulang dari botol air mineral besar yang sudah tidak terpakai, alhamdulillah musim hujan memang berkah 🙂 Tikuspun juga sudah jarang muncul untuk mengganggu tanaman kami. Kami bahkan punya tanaman nanas lho, dan bibit pepaya!

Jika seseorang mau belajar pasti bisa kan? Saya pun jadi suka lihat teknik2 berkebun di tempat minimalis melalui youtube. Saya juga jadi suka main tanah dan air di waktu senggang atau meluangkan waktu ditengah penat dalam mengerjakan skripsi, ternyata kotor itu menyenangkan, melihat cacing tanah dan daun-daun berlubang karena dimakan ulat saja saya sudah senang sekali, apalagi jika berbuah. Doakan ya  🙂

Gagal Gaul :D

Assalamualaikum ! 🙂

Judulnya menyedihkan yah? Tenang itu bukan saya, dari dulu saya belum pernah mendapatkan predikat “anak gaul”. Kalau “kuper”, “cupu”, “katro” apalagi yah? Itu mah sudah biasa saya dibilang begitu.

Pernah sih dulu berusaha jadi anak sedikit gaul dan kekinian (waktu SMP tapi yah), soalnya panas dikuping saya waktu dengar ada temen sekelas yang bilang gini ke salah satu teman saya, “Kamu kok mau sih temenan sama Arum? Arum itu kan kuper, nggak gaul….” I think she such a bitch waktu itu 😀

Sejak itu saya jadi suka pakai aksesoris, setiap seminggu sekali beli aksesoris, tentu saja tanpa sepengetahuan orang tua bisa-bisa saya dimarahin karena boros 😀 But, I feel that’s not me, bukan saya banget! Buat saya pakai gelang itu nggak nyaman buat tangan saya, pakai kalung lucu dari strawberry juga nggak nyaman buat leher saya, pakai earing imitasi lucu dari Emmy juga nggak nyaman buat kuping saya, gatal, risih ! Ok, saya hanya bertahan beberapa minggu atau bulan? Toh, ujung-ujungnya saya malah jualan aksesoris dikelas, hehehe 😀 😀 😀

Sesuatu yang paling membuat saya nyaman pada saat berada di sekolah adalah saat jam istirahat, I love library! Saya suka sekali melihat banyak buku, terutama buku fiksi dan filsafat. Walaupun di perpustakaan saya lebih sering berantem dengan kaka kelas yang namanya Kevin, nggak tahu kenapa kita selalu rebutan buku. Lama kelamaan dia lebih sering menjahili saya jika saya sedang ada di perpustakaan, dan itu menjadi kebiasaan selama 2 tahun berikutnya sampai Kevin lulus SMP.

Kebiasaan saya membeli aksesoris telah berganti menjadi kebiasaan membeli majalah. Dari majalah GAUL, TEEN, OLGA, COSMO GIRL, GOGIRL, hingga ELLE. Kenapa saya suka beli majalah? Biar saya tahu apa itu The BodyShop, Sephora, Lolita Lempicka, Anna Sui, Channel, Louis Vuitton, Armani, dll. Produk-produk yang tidak akan pernah saya beli karena harganya yang mahal kecuali The BodyShop!

Dari majalah-majalah itu kecuali GAUL dan TEEN, saya jadi jatuh cinta dengan Hollywood, astaganaga! Kampungan banget kan?!? At least saya belajar banyak tentang Bahasa Inggris gaul, walaupun nilai bahasa Inggris saya selalu jelek dan selalu masuk kelas remidi. At least saya juga tahu kepada siapa lagu UMBRELLA [yang hits banget waktu itu] ditawarkan, sebelum jatuh ke tangan Rihanna. GOSSIP GIRL, of course! Saya juga menggilai serial itu, Blake Lively, Leighton Meester dan Penn Badgley yang cakep banget. Tapi saya paling suka Leighton Meeste antagonis sih, tapi cute bangeeeeetttt. Saya juga jarang banget ketinggalan nonton serial Laguna Beach.

Waktu itu, Majalah Gaul dan Teen isinya berita-berita artis saja [kebanyakan artis-artis remaja Indonesia], artikel-artikelnya menurut saya kurang mendidik. Di Olga banyak artikel menarik, dari hot celebrity issue’s, tutorial make up/hair do, review buku hingga sex education. Saya tahu blog juga dari artikel dari OLGA! Saya mulai menulis blog awal kelas 3 smp, well isinya tulisan-tulisan nggak penting dari seorang remaja yang belajar menulis. Sampai sekarangpun masih belajar!

ELEE?! Astaga keren banget, ulasan fashion disini lengkap banget! Saya heran juga sih, saya banyak baca majalah fashion, tapi saya sendiri justru nggak fashionable banget  apalagi jadi fashionista. Dari dulu penampilan saya begini-begini aja, bahkan sering amburadul dan “semau gue”, walaupun semahal apapun pakaian yang saya pakai. Yeah, saya jarang ngikutin trend fashion, karena saya bukan follower. Saya tegasin lagi, I’m not a follower. Hihihihi

Pernah juga waktu SMK ada trend “memutihkan wajah” dengan krim-krim dokter, atau ce fuk, dll. Saya kepincut pengin ikutan juga, tapi masa iya kulit saya jadi putih secepat itu, instan banget. Saya hitam banget lhoooo… trus tiba-tiba saya jadi putih kan nanti pada kaget. Akhirnya saya pilih cara konvensional, FACIAL 2 minggu sekali ! Padahal saya jualan ORIFLAME 😀 Waktu itu punya pacar, jadi saya nggak harus keluar uang banyak buat faciaal, hahaha 😀

Dan pada akhirnya saya balik hitam lagi karena sudah nggak rutin facial hahaha lagi. Kan memang saya ini dasarnya memang sawo matang, saya toh perempuan jawa yang kebetulan juga tinggal di pesisir Semarang yang panasnya minta ampun,  saya juga sering panas-panasan, jadi nggak mungkin saya bisa jadi putih ala syahrini atau cewek cina. Asyudahlah, syukuri saja, toh cewek berkulit putih tapi cantik itu kan udah biasa, tapi kalau cewek berkulit hitam tapi manis itu jarang banget! Toh, saya cewek berkulit hitam tapi nggak cantik, dan nggak ada manis-manisnya juga, kecuali ibu saya dan Rio yang bilang dan mantan-mantan pacar saya. Bapak saya yang melahirkan saya aja nggak pernah mengakui kalau saya manis apalgi cantik, how pathetic!

Nah, kalau nggak pengen hitam jangan suka jadi pejalan kaki seperti saya. Don’t, don’t, and DON’T!

Saya sadar betul sih saya memang nggak bisa dan nggak akan pernah nyaman jadi “anak gaul” atau alay? Menurut saya mengikuti trend itu kurang penting kalau saya nggak mendapatkan benefit materil dari itu, buat apa? Nggak ada untungnya, malah buntung!

Saya kurang suka, saya kurang nyaman, karena dibalik predikat “Gaul” itu sangat kental dengan sifat Hedon. Fashion is everything, selfie is a must, hang out dengan teman berada di list teratas, dan kebiasaan-kebiasaan anak “gaul” lainnya. Modal materil saya kurang banyak buat mencukupi kebiasaan itu. Kan lebih baik buat modal mengembangkan usaha saya,melengkapi koleksi buku, dan beli pohon yang banyak!

Pssst, saat ini saya sedang gemar beli-beli tanaman/pohon buah, terutama pohon zaitun, mungkin ada yang mau menyumbang? Janji deh saya akan rawat dengan baik. Nah loh, hobi saya aja beda tipis kaya orang tua, gimana bisa jadi anak kekinian?!? hahahaha 😀

Be yourself !

 

 

 

 

Solidaritas untuk “Indon”

Assalamualaikum ! 🙂

Saya heran sekaligus sirik sekali dengan negara tetangga kita yang baru lahir. Kenapa begitu? Karena nasionalisme dan solidaritas mereka sangat tinggi. Mereka tak segan dengan lantang membela negara dan tanah air mereka.

Nah kita? Tak jarang kita justru menghina-dina bangsa kita sendiri. Tak jarang pula sesama orang Indonesia saling mengatai, “Dasar Indon!”. Kalimat sarkasme yang tidak seharusnya dikatakan. Pasti tidak asing kan, kita menjelek-jelekkan Presiden yang kemarin kita elu-elukan tapi sekarang dihujat habis-habisan? Sering kan ketika warga negara lain menyerang dan menghina kita, kita sering masa bodoh?

Saya punya cerita dari pengalaman teman saya yang berasal dari Timor Leste (TL). Suatu hari di kos saya -jauh sebelum saya mulai tinggal di kos yang sekarang saya tempati, terjadi keributan karena kesalahpahaman. Lampu kamar Si A (orang TL) mati, kemudian Si A mengganti lampu yang mati dengan lampu yang baru. Pada saat yang sama, lampu umum/lampu dapur di copot oleh petugas kebersihan. Lalu si B (orang Indonesia) mengira si A yang memindahkan lampu dapur ke kamarnya si A. Si B merasa sebal dan mencurahkan kesebalan itu ke dalam postingan di sosial media yang menuduh bahwa orang TL suka mencuri tanpa menyebut si A walaupun yang dimaksud adalah si A. Orang-orang TL yang kebetulan membaca timeline tersebut tentu saja merasa dihina, datanglah berbondong-bondong orang TL yang merupakan teman-teman satu komunitas si A melabrak si B. Dari cerita dan kesaksian yang saya dapat dari teman saya yang saat itu berada di TKP baik itu orang TL dan orang Indonesia sendiri, tidak ada yang membela si B. Justru teman saya (orang TL) sendiri yang mau memaklumi dan meredakan perselisihan itu sebelum terjadi kekerasan dan anarki.

Memang si B sudah jelas bersalah karena menghina suatu negara, tapi bukankah seharusnya sesama teman Indonesia yang lebih baik menengahi itu. Setidaknya ada sedikit rasa solidaritas terhadap sesama teman sendiri.

Cerita lain ketika saya sudah tinggal di Kos ini. Suatu hari yang panas di bulan Agustus, seorang teman (orang TL, sebut saja M -bukan inisial karena saya juga lupa namanya) dari teman saya yang saya panggil Kak Becka (orang TL juga) bercerita kepada saya mengenai betapa sebalnya dia dengan orang Jawa. Katanya, orang Jawa (teman-teman satu kampus dengan M) suka menertawai cara bicara/logat dan bahasa orang TL. Saya sangat ingat, M juga berkata, “Seharusnya orang Indonesia menghargai kami orang timur, tanpa kita Indonesia tidak akan dapat devisa. Hartanya Indonesia itu ada di Timur, lihat saja Papua itu jika Papua lepas dari Indonesia, Indonesia pasti akan miskin.” Saat itu juga ada teman saya (sebut saja L), orang Jawa yang lahir dan besar di Papua, dia pun mengamini statement si M.

Saya cukup terusik karena M sempat menyebut orang jawa, karena saya juga lahir dari keturunan Jawa. “Begini, tidak semua orang jawa seperti itu. Anggap saja teman yang menertawai kamu itu orang yang baru saja berbaur dengan orang asing seumur hidupnya, anggap saja itu hanya euforia karena  baru mengenal orang diluar komunitas jawa. Tapi, tidak semua orang jawa akan bereaksi seperti itu, OK? Saya toh tidak menertawai logat kalian ketika saya pertama kali berkenalan dengan orang TL, saya justru tertarik untuk belajar bahasa kalian.” itu jawaban saya.

Di timeline facebook saya sering membaca tulisan yang menghujat budaya bangsa sendiri yang tidak jarang ada tulisan “Dasar Indon!” padahal yang menulis juga orang Indonesia, ya saya tahu mereka menghujat kebisaan buruk teman sebangsa kita. Tapi saya yakin mereka belum sepenuhnya belum menjadi orang yang benar, sepertinya mereka juga masih suka buang sampah sembarangan, hehe 😀 Tetapi Orang-orang itu akan membela jika ada kasus tentang warga negara kita yang dilecehkan di luar negeri. Kasus pembunuhan TKI atau penghinaan TKI di luar negeri misalnya -walaupun jika ditelaah kesalahan ada diantara kedua belah pihak (majikan dan pembatu/tki). Kenapa yang jauh di bela habis-habisan, lalu yang dekat kenapa tidak mendapat pembelaan (seperti kasus kecil di kos saya)?

Disini saya merasa ada kesalahan dengan solidaritas, moral dan karakter dalam tatanan masyarakat Indonesia, bangsaku. Salahkah pendidikan yang kita dapat dari sekolah atau dari keluarga kita?

Saya ingat, ketika dulu saya masih sekolah guru saya lebih sering curhat tentang masa mudanya daripada menjelaskan pelajaran, -saya tahu guru saya mengharapkan muridnya untuk mengambil hikmah dari curhatannya itu. Yeah, hikmah apa yang bisa di ambil dari curhatan tentang anaknya yang tidak suka makan daging karena serat daging dapat menyelip di gigi? Bahkan ada guru sejarah saya waktu SMP, bukannya menjelaskan atau menceritakan dengan apik tentang masa lalu bangsa ini tetapi justru menceritakan tentang proses ngidam sewaktu dia hamil beberapa tahun sebelum itu. Atau wali kelas saya yang seorang guru matematika yang lebih fokus menagih uang SPP daripada mengajar. Dan juga salah satu guru yang sedikit-sedikit marah lalu menggebrak meja? Itu hanya segelintir kegilaan dari guru-guru yang pernah mengajar saya. Memori yang seperti itu lebih mudah terserap oleh otak belakang kita daripada materi pelajaran bukan? Pelajaran bimbingan konseling pun saya rasa tidak berdampak terlalu banyak pada moral dan karakter siswa, karena sistem “masuk kuping kanan keluar kuping kiri” oleh siswa.

Selain pendidikan dari sekolah, menurut saya adalah budaya yang tanamkan dan dipupuk oleh keluarga sejak lahir hingga dewasa. Tentu saja budaya atau kebiasaan dalam keluarga sangat berpengaruh secara signifikan terhadap karakter sang anak. Hal ini mungkin tercermin dengan sikap petinggi-petinggi negara kita yang justru lebih suka memperkaya diri sendiri, kepentingan rakyat atau yang lebih tepat teman sebangsa (teman yang rela memberikan suara untuk memilih salah satu dari mereka) hanya menyita sedikit dari perhatian beliau, tapi janganlah menyebut beliau dengan kata “Indon”, walaupun kata “Indon” ditujukan kepada orang Indonesia yang mempunyai perilaku buruk.

Please, lalu apa donk sebutan untuk orang Jepang yang perilaku buruk? Amerika? Swiss? Pakistan? Bulgaria? Dan negara-negara lainnya di seluruh belahan bumi ini.

Kalian ingin Indonesia jadi negara maju seperti negara tetangga kita yang superkecil a.k.a Singapura atau negara tetangga kita yang suka menggerogoti wilayah negara kita a.k.a Malaysia? Well, saran saya jangan protes melulu! Ayo bertindak yang positif, benahi perilaku kita, hargai sesama warga negara Indonesia, lindungi nama baik Indonesia dimata dunia.

Saya sebagai penulis memang bukan orang yang paling benar, setidaknya saya masih mempunyai rasa sayng untuk negara saya. Silahkan mengatai saya “Indon”, saya toh tetap menyukai negara saya. Kalau bukan kita yang menyayangi negara kita, lalu siapa lagi donk? Kalau kalian masih malu jadi orang Indonesia, saya sarankan lebih baik pindah warga negara saja, toh hati tidak akan lagi terbebani dengan embel-embel “Indon”. Wassalam! ^_^

Please, jadi gemuk itu nggak enak! Cek berat badan idealmu yuk! :)

Assalamualaikum! 🙂

Baru-baru ini saya menimbang berat badan saya setelah sekian lama nggak menimbang dan astaganaga ternyata berat badan saya naik banyak banget semenjak beberapa bulan terakhir. Orang-orang di sekitar, teman-teman, tetangga, dosen, sampai orang tua saya pun bisa melihat perubahan bentuk tubuh saya yang makin menggendut. 😦 Oke, dulu berat badan saya stuck di angka 44 kg……… dan sekarang berat badan saya 55 kg!

Beruntung saya suka beli baju yang longgar jadi nggak perlu buang-buang baju atau sedih karena bajunya udah nggak muat dipakai lagi ( borosVShemat ),tapi yang mengesalkan saya nggak bisa pakai skiny jeans yang baru saya beli awal semester 6 kemarin, baru sekali pakai dan sekarang udah nggak bisa dipakai karena emang bener-bener nggak muat! 😦 Rio sih berasa gembira banget karena saya jadi gendut, tapi tahukah menjadi gemuk itu nggak nyaman buat saya! Ya, terasa banget perubahannya. Saya jadi gampang capek, dan dikit-dikit kepanasan. Dulu sih saya suka banget jalan kaki walaupun jaraknya bisa dibilang jauh. Ukuran perut membesar, please saya nggak sedang hamil ! Badan saya jadi menggelembung dibeberapa spot terutama paha, perut, lengan, dan pipi, sama sekali nggak berbentuk, juga munculnya garis lemak, ewh :3 Dan ini paling vital yaitu mengganggu siklus menstruasi, saya jadi sering telat datang bulan.

Nah saya bisa sedikit lega, setelah saya hitung berat badan ideal saya via WRP diet ( klik disini ) hasilnya Body Mass Index atau Index massa tubuh saya 22,03 masih bisa dibilang normal dan berat badan ideal saya adalah antara 44,94 kg – 56,17 kg. Yap, saya masih berada dibatas normal menurut versi WRP ini. Tapi menurut rumus berat badan ideal (BBI = Tinggi badan – 100 * 90% ) hasilnya, seharusnya berat badan saya nggak melebihi 52,2 kg bisa dibilang saya udah overweight.

Nah, sekarang kamu cek juga ya berat badan ideal kamu. ^^

Jadilah seimbang, sayangi tubuhmu karena sehat itu menyenangkan 🙂

Hunting Buku Kalem di Loakan Buku

DSC05861DSC05862

Assalamualaikum ! 😀 Ini oleh-oleh saya dari SriWedari (Petualangan Lebaran kemarin-red)

Bisa dibilang saya ini kutu buku. Memang benar, karena moto saya adalah “Lebih baik punya buku tapi bacanya ntar-ntar aja, daripada baca buku tapi minjem” Iyah saya tahu emang nggak mutu banget, but, thats me! 😀

Sheila ini adalah buku bacaan saya sewaktu SMP dulu, waktu saya masih rajin banget menyambangi perpustakaan daerah di Ngalian (dekat SMP saya). Yap, tiap hari merelakan jalan kaki cepat 5 menit sampai kesana sambil berharap perpustakaannya belum tutup, maklum waktu itu sekolah saya selesainya pukul 13.00 sedangkan perpustakaan tutupnya pukul 15.00, jadi harus memanfaatkan waktu 2 jam itu. ^^

Udah lama banget saya tuh ngidaaaam pengen ke loakan buku Sri Wedari, jadi kemarin mumpung ada Mas Rio yang ikutan saya dan keluarga mudik ke Sragen, saya merengek-rengek minta ditemani kesana. Jadilah saya sampai disana, nggak usah cerita lagi la ya bagaimana proses saya bisa sampai disana, baca aja postingan saya yang petualang lebaran itu >,<

Sesampainya disana, belum turun dari motor aja saya udah euforia banget, giraaaaaannng banget ngeliat buku banyak banget bertumpuk-tumpuk di lapak kios-kios kecil yang berjejer rapi di belakang taman SriWedari. Rasanya itu seperti bidadari ketemu surga, ya betul seperti itulah rasanya 😀 Setelah parkir dan turun dari motor aja saya masih pengen jingkrak-jingkrak, tapi berhubung disitu ada banyak pedagang buku yang melek dan nggak pengen mempermalukan Mas Rio juga saya mengurungkan niat untuk berjingkrak-jingkrak ria. Yeayyyyyyyy !!!!! 😀 😀 😀 😀 😀 😀 😀 😀 😀

Dilapak ketiga saya mulai tertarik dengan buku-buku yang dijual disitu, (yaiyalah ada novel sama komiknya) dan WOW, apa saya nggak salah lihat nih, ada buku nya Torey Heiden dijual disitu! Walaupun kondisinya nggak mulus sih, at least halaman nya masih utuh dan lengkap dan nggak ada yang sobek. Grab it so Fast, langsung sambar! Dengan sedikit tawar menawar akhirnya saya dapat harga Rp 15.000, worth it lah, nyari di Gramedia juga udah ngga ada, di Gunung Agung, Merbabu, Togamas apalagi di Loakan Stadion Diponegoro Semarang juga ngga ada. Iya dulu waktu SMK saya pernah iseng nyari-nyari hasilnya nihil.

Dan kemarin disaat saya sudah lupa sama sekali dengan buku itu, Tuhan menunjukan anugrahnya dengan mempertemukan saya dengan buku itu, wohohohoho sorry lebay 😀 Sebenarnya buku itu ada lanjutannya, tapi penjualnya nggak punya, yasudah daripada nggak dapat a.k.a nggak punya sama sekali 😉

Tips saya sih kalau memang kamu seorang hunter buku, sediakan budget yang cukup atau lebih kalau bisa, karena kamu nggak akan menyangka akan dapat buku bagus-bagus dengan harga murah meriah. Contohnya saya, saya nggak bawa uang lebih (di deket situ ngga ada ATM apalagi kios yang mau terima kartu debet, jangan berharap deh, rekening saya aja juga udah ludes buat belanja di pasar malam 😀 ). At least, disitu saya nggak kecewa-kecewa amat kok, saya masih bisa bahagia karena saya dapat Lupus seharga Rp 3.500 (*3 buku, masih mulus semua), Komik One Shoot seharga Rp 3.000 (bekas tapi masih muluuuuussss), Asari Chan seharga Rp 5.000 (masih segel, gresssss). Ada sedikit sesal karena saya terlalu perhitungan, seharusnya saya beli Asari Chan semuanya, well disitu ada 8 seri Asari Chan which is semuanya mulus banget walaupun nggak segel dan walaupun harganya sama-sama Rp 5.000! Mana mbakk nya yang jual cantik dan baik pula…. yah…

Saya pikir-pikir lagi nggak masalahlah, ntar juga dapat harga bagus lagi entah itu di Semarang atau di Solo. Saya pikir-pikir lagi, hunting buku harus kalem nggak perlu terlalu bernafsu. Ya nggak ?? ^_^

Tips lagi, jangan lupa bandingkan harga buku pada saat “baru” di toko buku besar (Kalau masih jual) dengan harga bekasnya. Pastikan harganya kalau bisa kurang dari 60% bahkan 50% dari harga barunya. Di kios yang sama waktu saya beli buku Lupus dan teman-temannya tadi, disitu juga jual seri Shoppaholic nya Sophie Kinsella, waktu saya iseng tanya harganya, buseeettt Rp 35.000 meeeenn, menurut saya nggak worth it aja harga segitu dengan kondisi buku yang sama persis seperti buku Torey Heiden yang saya dapatkan tadi. Wiiiiiiiiiii saya aja dapat 5 seri Shoppaholic seharga Rp 20.000/buku saat pameran Pesta Buku di Gramedia, dan Rp 25.000 untuk seri Shoppaholic kedua di TB Merbabu  dengan kondisi buku masih baru masih dan segel ! :p

Beep Beep Boop Petualangan Lebaran

Assalamualaikum ! 😀 Oiya, maaf lahir batin yah semuanyaaa 🙂

Holla, lama banget saya nggak coret-coret di blog saya ini, saya beneran sibuuuuuukkkk, ya sih sesibuk-sibuknya saya masih sempatin buat balas koment/pertanyaan di posting2 saya. Cuma kebanyakan cuma pada nanya soal kampus sayaa… -_-

Jadi kemarin saya sekeluarga -minus Mas Tafit mudik ke Sragen, hanya saja mudik kali ini saya nggak naik bis seperti tahun kemarin. Tahun ini sudah ada Rio yang boncengin saya, walaupun naik motor CB 😀 Bapak sama ibu boncengan naik motor matic, sebenarnya pengen juga sih rental mobil, cuma malas jalanan macet nggak bisa nyalip-nyalip *indonesiabanget*

Hari kedua lebaran : berangkat ke Sragen sebelum matahari terbit, habis subuhan gitu.. kebayang kan gimana dinginnya naik motor di waktu subuh apalagi melewati perbukitan dan pegunungan. Perjalanan kurang lebih 3 jam, dan pemandangan alam waktu lewat salatiga indaaaahhh banget apalagi waktunya matahri terbit, pemandangan sungai sawah pegunungan disertai matahari terbit subhanallah…. sayang nggak sempat berhenti untuk ngambil foto 😦 Sesampainya di Sragen udah agak tinggi mataharinya yah panas deh..

Berasa ngidam banget nget nget nget pokoknya ngebet banget saya pengen ke Sri Wedari Solo! Berburu buku bekas murah, itu tujuan utamanya hahahahaha Syukur sepupu saya yg cewek mau dengan senang hati memandu saya ke Solo, jadilah besoknya kita berangkat ke Solo ber4, saya boncengan sama Rio, sepupu saya boncengan sama temannya. Bisa dibilang ini trip paling ngeselin menurut saya. Naudzubillah banget, masa perjalanan dari Sragen Kota sampai ke Jurug Solo 2 jam! Muke Gile! Sepupu saya ngajak ke Jurug dulu, hokeeehhh kita masuk kebun binatang Jurug setelah keliling kurang lebih 40 menitan saya bosan dan saya bilang mau lanjutin ke tujuan berikutnya, daaaaaaaannn dia bilang nggak hapal jalan2 di Solo apalagi ke Sri Wedari sama pasar Klewer -kebetulan kakak sepupu saya yang cowok nitip baju di pasar klewer. Ehbuseeet kenapa nggak bilang dari awal, akhirnya kita pisah aja (atas kesepakatan bersama) daripada kita muter-muter Solo nggak jelas dengan kecepatan motor 20 km/jam ! Saya dan Rio melanjutkan perjalanan ke Pasar Klewer + SriWedari dengan mengandalkan GPS Google Map, dan sepupu saya balik lagi ke Jurug. Setelah menerjang a.k.a melawan arus beberapa jalan searah di Solo (untung pakai motor plat H) akhirnya kita sampai di pasar Klewer dan SriWedari. Lumayan terbayar sih kekesalan saya sesiangan itu dengan melihat banyaknya buku yang dipajang di lapak-lapak kecik di SriWedari, mana harganya murah-murah. Sayang kita nggak bisa ambil fotonya karena handpone saya mati, dan batere hp Rio juga udah tiris harus dihemat buat gps perjalan pulang nanti. Alhamdulillah banget hapenya mati pas kita udah sampai di Sragen 🙂

Paginya kita berangkat ke Blora, berdua aja. Saya sama Rio. Silaturahmi ke rumah orang tua Rio. Dipaksa nginep 2 malam karena kondisi saya juga kurang fit karena kelelahan. selama 2 hari 2 malam itu saya udah berkunjung ke Bledug Uwu (mampir doank untuk foto-foto didepan pagar Bledug Uwu, saya nggak boleh masuk karena Rio percaya mitos! ), ke Grobogan (Rumah nenek Rio dan keluarga dari bapak Rio), ke Rs Purwodadi jenguk kelahiran bayi dari tantenya Rio (kebayang gimana capeknya malam-malam bermotor dari Blora Todanan ke Purwodadi kota), dan keliling Pati berkunjung kerumah 2 sahabat saya Dewi dan Risa. Harusnya sih kerumah Citra juga, sayanya Citra lagi di Surabaya. Jarak rumah keduanya sangaaaaaaatttt jauh, dari ujung ke ujung yang berlawanan arah, jadi kita berasa keliling Pati gitu. 😀

Capek sih tapi seneeeeeeennnnggg banget! 😀

Biaya Hidup di Semarang (Mahasiswa —ala saya)

Semarang memang bukan kota besar, tapi kota Semarang penduduknya juga sudah sangat padat. Saya sendiri juga kadang-kadang merasa penat. Don’t worry, setidaknya disini kalau malam tidak terlalu bising. Udaranya kalau siang panaaaaaassss, kalau malam ya sejuk tapi kadang juga panas 😀 Well, saya cuma ingin berbagi tentang kehidupan disini terutama biaya hidup disini. Dan karena saya seorang mahasiswa, saya hanya menulis bagi kalangan pelajar saja. Saya sendiri belum merasakan bekerja yang sebenarnya. Pernah sih dulu di Kafe tapi gajinya nggak seberapa.

Kalau mau kuliah atau sekolah disini yang pertama pasti harus ada tempat tinggal dulu, kecuali jika ada saudara atau kerabat. Disini sih paling banyak berupa kost atau kontrakan. Ada sih Rusun, tapi saya sangat-tidak-menyarankan. Apartemen juga ada, tapi cukup mahal sewanya. Harga sewa kost disini rata-rata Rp 450.000/bulan, satu kamar untuk satu orang yang didalamnya ada kasur, almari, meja belajar, listrik dan air. Tapii fasilitas kost itu tergantung tempat dan pemiliknya. Kalau saya sih cukup beruntung dapat kos murah di tengah kota Semarang. Harga kamar saya satu bulannya Rp 350.000, jarak dari kampus kurang lebih150 m. Dekat dengan pasar, indomaret, mikromart, ATM, dan Mc D. Di dekat kampus Unisbank Mugas juga ada kost yang cukup bagus dengan kamar mandi di dalam (seperti flat kalau di luar negeri, cuma hanya ada kamar mandi dan kamar tidur saja serta fasilitas pendukungnya), katanya teman saya yang dulu mau kost disitu tapi nggak jadi harga sewanya sekitar Rp 1.000.000/bulan. Kalau kamu berencana kuliah di Undip atau Polines tentunya lebih mahal, minimal harga sewa disana rata-rata Rp 500.000, ada yang lebih murah? Tentu ada, tapi carilah sendiri 😀 Saran saya dan teman saya, carilah kost dengan bertanya dari pintu ke pintu, jika ada tanda “Terima Kost” kata teman saya kos nya nggak enak. Kebetulan teman saya suka berpindah kost, kalau saya sih belum pernah pindah.

Untuk kontrakan sekarang ini harga sewanya sudah cukup mahal menurut saya , Rata-rata Rp 5.000.000/tahun (harga minimal di pinggiran kota) biasanya ada 2 kamar dan 1 kamar mandi + WC. Kalau di tengah kota sini memang cukup mahal, contoh di daerah kampus Udinus satu petak kontrakan dengan 1 kamar tidur, 1 kamar mandi + WC, dan halaman kecil bisa untuk parkir 2-3 motor (mepet banget) harganya Rp 2.000.000/ 3 bulan. Boleh dihuni 3-5 orang. Kalau apartemen di Best Western dulu baca iklannya sekitar 5 jutaan.

Oke, tempat tinggal udah. Tinggal konsumsi.

Mau makan apa? Mau makan dimana? Cari makan yang bersih disini tidak susah-susah amat kok, warteg-wateg disini cukup bersih dan fresh, tapi ada beberapa yang saya nggak suka karena masakannya nggak fresh. Selain warteg ada Warung Padang, kalau di warung padang biasanya fresh, karena kuota masakannya biasanya sedikit, kecuali RM Padang “Sederhana” sudah pasti kuotanya banyak. Biaya sekali makan yang sederhana minimal Rp 7.500 sudah dapat nasi + sayur + gorengan + es teh. Kalau mau makan di FoodCourt entah itu di DP Mall, CitraLand Mall, Paragon atau Java Mall minimal Rp 20.000, itu dapat makannya aja. Kalau mau sarapan di Hotel sih biasanya Rp 35-65ribu all you can eat, all you can drink 😀

Kalau saya sih lebih pilih masak sendiri. Beras gratis (bawa dari rumah 1 kg cukup buat seminggu), telur ayam gratis (bawa dari rumah 4 butir buat seminggu -btw, saya nggak tiap hari makan telur), Mi instan gratis (bawa dari rumah 5 bungkus buat seminggu -btw, saya nggak tiap hari makan mi instan). Beli sayur sop mentah  di pasar Rp 2.000 udah dapat. Tempe Rp 2.000 dapat satu kotak 10x10cm dan cukup tebal. Bumbu seperti cabai bawang seribu juga udah cukup buat masak 2-3 hari. Bumbu penyedap atau garam gratis karena bawa dari rumah. Bisa dimakan untuk 3-5 kali makan loh lauknya, kalau nasinya ya dikira-kira sendiri. Kalau malas masak saya biasanya beli sayur sop yang sudah matang Rp 3.000 untuk 2 kali makan. Menu saya sehari -hari cuma nasi+sop+tempe goreng. Dengan itu Saya bisa menghemat banyak, dan makan daging/ikan hanya dirumah 😀 Sarapan pun saya sekarang pakai oatmeal karena memang sedang diet, satu bungkus oatmeal Rp 11.000 cukup untuk 5 hari. Susu 6 sachet Rp 7.000. Air galon untuk masak Rp 5.000, sedangkan air minum Rp 4.000/botol (tergantung promo di indomaret), 5 botol ukuran 1.5L cukup untuk seminggu dan air galon cukup untuk kurang lebih 1 bulan. Sebenarnya bisa saja minum pakai air galon, tapi sayanya nggak suka. Roti gandum, terkadang ada satu hari dimana saya tidak mau makan nasi maka harus ada roti gandum, di daerah pandanaran sini ada beberapa toko roti, saya biasa beli di Holland Rp 18.000/bungkus isinya 10 slice. cukup untuk 3-5 kali makan dengan tambahan selai kacang morrin atau pisang dan susu kental manis rasa coklat. Jadi kira-kira biaya konsumsi saya sebulannya : Rp 325.000 ditambah Rp 90.000 untuk multivitamin jadi Rp 415.000

Cukup murah kan ???

Biaya kesehatan disini untuk periksa di dokter minimal Rp 30.000 tidak termasuk obat. Tidak semua klinik dokter mendukung kartu asuransi. Jika punya asuransi lebih baik periksa di rumah Sakit. Disini ada beberapa Rumah sakit besar di tengah kota seperti RS. Kariadi, RS. Tlogorejo, RS. Elisabeth, RS. Columbia Asia, dll. Berhubung pemilik kost yang saya tempati ini adalah seorang dokter, biasanya saya gratis jika konsultasi atau periksa.

Biaya kebugaran untuk Gym misalnya kamu bisa berlangganan di hotel-hotel disini dengan biaya minimal kurang lebih Rp 200.000/bulan dan kamu juga bisa renang sepuasnya. Bisa juga gratis kalau mau sekedar jogging atau angkat beban di Gor Tri Lomba Juang. Tiket masuk FREE kecuali untuk parkir motor.

Biaya SPP Sekolah disini saya rasa tidak semuanya gratis yah, apalagi SMK. Dulu katanya Gratis tapi ada yang bilang tetap bayar. Kalau kuliah tergantung di Universitas mana kamu mendaftar, kalau mau daftar di Unisbank silahkan cek info yang lebih lengkap disini.

Kesimpulannya biaya hidup saya sebulannya :

Kost Rp 350.000

Konsumsi Rp 415.000

SPP kuliah Rp 545.000

Pulsa Rp 102.000

Biaya lain-lain Rp 150.000

Total = Rp 1.562.000

Wow, padahal itu biaya hidup senin-jumat x 4 minggu, dan saya sudah berusaha untuk hemat !

nb. mohon maaf pertanyaan melalui sms/wa tidak bisa saya balas. Untuk line bisa add saya di fitianaarumi2 🙂

 

Saya pikir laki-laki itu…

Ini nih saya sering bikin beberapa cowok yang pernah dekat sama saya itu jadi lumayan sakit hati gara-gara pemikiran saya tentang mereka, karena saya pikir cowok a.k.a laki-laki itu :

1. Nggak peka. Katanya “bebanmu bebanku juga.” faktanya boro-boro, ngertiin perasaan cewek lagi kayak apa aja enggak. Kadang suka marah-marah gara-gara sms-bm-wa ngga di bales, nggak tau apa kalo pulsa lagi habis!

2. Cuek, perhatian di awalnya doank pas pdkt. Kadang kalo lagi perhatian, perhatiaaaaannn banget.

3. Anti rempong.

4. Suka males potong kuku, kan jorok banget apalagi sampe item kukunya! -ok, itu mantan saya, dia selalu beralibi “Kuku-ku harga diriku.”

5. Kalau futsal suka nggak bawa baju ganti, tau sendiri kan keringetnya banyaknya kayak apa sampe tumpeh-tumpeh hyuuuuuuhhhhh -ok, itu salah satu mantan saya. Dia selalu beralibi “Keringatku harga diriku.” Bye-bye cowok futsaaaalll :p

6. Nggak pernah memperhatikan detail. Percuma kan kita pake lipstick baru, dianya sama sekali nggak nyadar -itu pacar saya.

7. Cemburuan. Dikit-dikit cemburu, saya berduaan sama laptop aja juga dicemburuin. -itu mantan-mantan saya dan pacar saya.

8. Suka semaunya sendiri, -itu juga saya banget.

9. Nggak punya perasaan. Kadang-kadang cowok itu dengan sengaja atau tanpa sengaja suka menyakiti kita para kaum cewek. Kadang dia kira cuma dia yang punya perasaan dan cuma dia yang bisa sakit hati. Padahal dia sendiri perasaannya suka hilang entah kemana.