Jenis-Jenis Penelitian Ilmiah

Jenis-jenis penelitian sangat beragam macamnya, disesuaikan dengan cara pandang dan dasar keilmuan yang dimiliki oleh para pakar dalam memberikan klasifikasi akan jenis penelitian yang diungkapkan. Namun demikian, jenis penelitian secara umum dapat digolongkan sebagaimana yang akan dipaparkan berikut ini.

 #JENIS PENELITIAN MENURUT PENDEKATAN ANALITIK

Dilihat dari pendekatan analisisnya, penelitian dibagi menjadi dua macam, yaitu: penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.

  1. Jenis penelitian kuantitatif

Penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerikal (angka-angka) yang diolah dengan metoda statistik. Pada dasarnya pendekatan kuantitatif dilakukan pada jenis penelitian inferensial dan menyandarkan kesimpulan hasil penelitian pada suatu probabilitas kesalahan penolakan hipotesis nihil. Dengan metoda kuantitatif akan diperoleh signifikansi perbedaan kelompok atau signifikansi hubungan antar variabel yang diteliti. Pada umumnya, penelitian kuantitaif merupakan penelitian dengan jumlah sampel besar.

Bila disederhanakan penelitian berdasarkan pendekatan kuantitatif secara mendalam dibagi menjadi: penelitian deskriptif dan penelitian inferensial.

a. Penelitian deskriptif

Penelitian deskriptif melakukan analisis hanya sampai taraf deskripsi, yaitu menganalisis dan menyajikan data secara sistematik, sehingga dapat lebih mudah untuk difahami dan disimpulkan. Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu. Analisis yang sering digunakan adalah: analisis persentase dan analisis kecenderungan.  Kesimpulan yang dihasilkan tidak bersifat umum. Jenis penelitian deskriptif yang cukup dikenal adalah penelitian survei.

b. Penelitian inferensial

Penelitian inferensial melakukan analisis hubungan antar variabel dengan pengujian hipotesis. Dengan demikian, kesimpulan penelitian jauh melebihi sajian data kuantitatif saja, dan kesimpulannya adakalanya bersifat umum.

  1. Jenis penelitian menurut pendekatan kualitatif

            Penelitian dengan pendekatan kualitatif pada umumnya menekankan analisis proses dari proses berfikir secara deduktif dan induktif yang berkaitan dengan dinamika hubungan antar fenomena yang diamati, dan senantiasa menggunakan logika ilmiah. Penelitian kualitatif tidak berarti tanpa menggunakan dukungan dari data kuantitatif, akan tetapi lebih ditekankan pada kedalaman berfikir formal dari peneliti dalam menjawab permasalahan yang dihadapi.

Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengembangkan konsep sensitivitas pada masalah yang dihadapi, menerangkan realitas yang berkaitan dengan penelusuran teori dari bawah (grounded theory), dan mengembangkan pemahaman akan satu atau lebih dari fenomena yang dihadapi.

 

 #JENIS PENELITIAN MENURUT TUJUAN

 Jenis penelitian menurut tujuan terdiri dari:

  1. Penelitian Eksploratif

Jenis penelitian eksploratif, adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menemukan sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru itu dapat saja berupa pengelompokkan suatu gejala, fakta, dan penyakit tertentu. Penelitian ini banyak memakan waktu dan biaya.

  1. Penelitian Pengembangan

Jenis penelitian pengembangan bertujuan untuk mengembangkan aspek ilmu pengetahuan. Misalnya: penelitian yang meneliti tentang pemanfaatan terapi gen untuk penyakit-penyakit menurun.

  1. Penelitian Verifikatif

            Jenis penelitian ini bertujuan untuk menguji kebenaran suatu fenomena. Misalnya saja, masyarakat mempercayai bahwa air sumur Pak Daryan mampu mengobati penyakit mata dan kulit. Fenomena ini harus dibuktikan secara klinik dan farmakologik, apakah memang air tersebut mengandung zat kimia yang dapat menyembuhkan penyakit mata.

 

#JENIS PENELITIAN MENURUT WAKTU

  1. Penelitian Longitudinal

Penelitian longitudinal adalah penelitian yang dilakukan dengan ciri: waktu penelitian lama, memerlukan biaya yang relatif besar, dan melibatkan populasi yang  mendiami wilayah tertentu, dan dipusatkan pada perubahan variabel amatan dari waktu ke waktu. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mempelajari pola dan urutan perkembangan dan/atau perubahan sesuatu hal, sejalan dengan berlangsungnya perubahan waktu. Jenis penelitian ini sering digunakan pada penelitian lingkup Epidemiologi dengan beberapa rancangan yang khas, seperti kohort, cross-sectional, dan kasus kontrol.

a. Kohort

Penelitian kohort sering juga disebut penelitian follow up atau penelitian insidensi, yang dimulai dengan sekelompok orang (kohor) yang bebas dari penyakit, yang diklasifikasikan ke dalam sub-kelompok tertentu sesuai dengan paparan terhadap sebuah penyebab potensial terjadinya penyakit atau outcome.

Penelitian kohort memberikan informasi terbaik tentang penyebab penyakit dan pengukurannya yang paling langsung tentang resiko timbulnya penyakit. Jadi ciri umum penelitian kohort adalah:

  1. dimulai dari pemilihan subyek berdasarkan status paparan.
  1. melakukan pencatatan terhadap perkembangan subyek dalam kelompok studi amatan.
  2. dimungkinkan penghitungan laju insidensi (ID) dari masing-masing kelompok studi.
  3. peneliti hanya mengamati dan mencatat paparan dan penyakit dan tidak dengan sengaja mengalokasikan paparan.

Oleh karena penelitian kohort diikuti dalam suatu periode tertentu, maka rancangannya dapat bersifat restropektif dan prospektif, tergantung pada kapan terjadinya paparan pada saat peneliti mau mengadakan penelitian.

Rancangan penelitian kohort prospektif, jika paparan sedang atau akan berlangsung, pada saat penelitian memulai penelitiannya. Rancangan kohort retrospektif, jika paparan telah terjadi sebelum peneliti memulai penelitiannya. Jenis penelitian ini sering disebut sebagai penelitian prospektif historik.

b. Penelitian cross-sectional (Lintas-Bagian)

            Penelitian lintas-bagian adalah penelitian yang mengukur prevalensi penyakit. Oleh karena itu seringkali disebut sebagai penelitian prevalensi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan penyakit dengan paparan dengan cara mengamati status paparan dan penyakit secara serentak pada individu dari populasi tunggal pada satu saat atau periode tertentu.

Penelitian  lintas-bagian relatif lebih mudah dan murah untuk dikerjakan oleh peneliti dan amat berguna bagi penemuan pemapar yang terikat erat pada karakteristik masing-masing individu. Data yang berasal dari penelitian ini bermanfaat untuk: menaksir besarnya kebutuhan di bidang pelayanan kesehatan dari populasi tersebut. Instrumen yang sering digunakan untuk memperoleh data dilakukan melalui: survei, wawancara, dan isian kuisioner.

c. Penelitian Kasus Kontrol (case control)

            Penelitian  kasus kontrol adalah rancangan epidemiologis yang mempelajari hubungan antara paparan (amatan penelitian) dan penyakit, dengan cara membandingkan kelompok kasus dan kelompok kontrol berdasarkan status paparannya. Ciri penelitian ini adalah: pemilihan subyek berdasarkan status penyakitnya, untuk kemudian dilakukan amatan apakah subyek mempunyai riwayar terpapar  atau tidak. Subyek yang  didiagnosis menderita penyakit disebut: Kasus berupa insidensi yang muncul dari populasi, sedangkan subyek yang tidak menderita disebut Kontrol.

 

#JENIS PENELITIAN MENURUT  RANCANGAN

            Ada beberapa jenis penelitian yang didasarkan pada rancangan yang digunakan untuk memperoleh data, misalnya penelitian korelasional, kausal-komparatif, eksperimen, dan penelitian tindakan (action research).

  1. Penelitian Korelasional (correlational research)

Tujuan penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berhubungan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi.

            Contoh penelitian korelasional yang umum dilakukan:

  1. Studi yang mempelajari hubungan antara skor pada test masuk perguruan tinggi dengan indeks prestasi semester pada mahasiswa STIKes di Wilayah Jawa Barat.
  1. Studi analisis faktor mengenai hubungan antara tingkat pengetahuan, pendidikan, dan status sosial dengan pemilihan jenis persalinan di desa tertinggal.

 

 

  1. Penelitian Kausal-Komparatif (causal-comparative research)

Tujuan penelitian kausal-komparatif adalah untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat dengan berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada dan mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.

Penelitian kausal-komperatif bersifat ex post facto, artinya data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dipersoalkan berlangsung (lewat). Peneliti mengambil satu atau lebih akibat sebagai “dependent variable” dan menguji data itu dengan menelusuri kembali ke masa lampau untuk mencari sebab-sebab, saling hubungan, dan maknanya.

 

  1. Penelitian Eksperimental-Sungguhan (true-experimental research)

Tujuan penelitian eksperimental sungguhan adalah untuk menyelidiki kemungkinan saling hubungan sebab-akibat dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimental dengan satu atau lebih kondisi perlakuan dan memperbandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan.

            Ciri utama dari penelitian eksperimen meliputi:

  1. Pengaturan variabel-variabel dan kondisi-kondisi eksperimental secara tertib-ketat, baik dengan kontrol atau manipulasi langsung maupun dengan randomisasi (pengaturan secara rambang).
  2. Secara khas menggunakan kelompok kontrol sebagai “garis dasar” untuk dibandingkan dengan kelompok (kelompok-kelompok) yang dikenai perlakuan eksperimental.
  3. Memusatkan usaha pada pengontrolan varians dengan cara: pemilihan subyek secara acak, penempatan subyek dalam kelompok-kelompok secara rambang, dan penentuan perlakuan eksperimental kepada kelompok secara rambang.
  4. Validitas internal merupakan tujuan pertama metode eksperimental.
  5. Tujuan ke dua metode eksperimental adalah validitas eksternal.
  6. Dalam rancangan eksperimental yang klasik, semua variabel penting diusahakan agar konstan kecuali variabel perlakuan yang secara sengaja dimanipulasikan atau dibiarkan bervariasi.

 

  1. Penelitian Eksperimental-Semu (quasi-experimental research)

Tujuan penelitian eksperimental-semu adalah untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol dan/atau memanipulasikan semua variabel yang relevan. Si peneliti harus dengan jelas mengerti kompromi apa yang ada pada validitas internal dan validiti eksternal rancangannya dan berbuat sesuai dengan keterbatasan-keterbatasan tersebut.

Ciri penelitian eksperimen semu meliputi:

  1. Penelitian eksperimental-semu secara khas mengenai keadaan praktis, yang di dalamnya adalah tidak mungkin untuk mengontrol semua variabel yang relevan kecuali beberapa dari variabel tersebut.
  2. Subyek penelitian adalah manusia, misalnya dalam mengukur aspek minat, sikap, dan perilaku.
  3. Tetap dilakukan randomisasi untuk sampel, sehingga validitas internal masih dapat dijaga.

 

  1. Penelitian Tindakan (action research)

Penelitian tindakan bertujuan mengembangkan keterampilan-keterampilan baru atau cara pendekatan baru dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di dunia kerja atau dunia aktual yang lain.

Contoh penelitian tindakan misalnya adalah:

  1. Penelitian tentang pelaksanaan suatu program inservice training untuk melatih para konselor bekerja dengan anak putus sekolah;
  2. Penelitian untuk menyusun program penjajagan dalam pencegahan kecelakaan pada pendidikan pengemudi;
  3. Penelitian untuk memecahkan masalah apatisme dalam penggunaan teknologi modern atau metode menanam padi yang inovatif.

            Ciri penelitian tindakan adalah:

  1. Praktis dan langsung relevan untuk situasi aktual dalam dunia kerja.
  1. Menyediakan rangka-kerja yang teratur untuk pemecahan masalah dan perkembangan baru.
  2. Penelitian mendasarkan diri kepada observasi aktual dan data mengenai tingkah laku, dan tidak berdasar pada pendapat subyektif yang didasarkan pada pengalaman masa lampau.
  3. Fleksibel dan adaptif, membolehkan perubahan selama masa penelitiannya dan mengorbankan kontrol untuk kepentingan on-the spot experimentation dan inovasi.

 

#CATATAN

Riset atau penelitian sering dideskripsikan sebagai suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistimatik, yang bertujuan untuk menemukan, menginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta. Penyelidikan intelektual ini menghasilkan suatu pengetahuan yang lebih mendalam mengenai suatu peristiwa, tingkah laku, teori, dan hukum, serta membuka peluang bagi penerapan praktis dari pengetahuan tersebut. Istilah ini juga digunakan untuk menjelaskan suatu koleksi informasi menyeluruh mengenai suatu subyek tertentu, dan biasanya dihubungkan dengan hasil dari suatu ilmu atau metode ilmiah. Kata ini diserap dari kata bahasa Inggris research yang diturunkan dari bahasa Perancis yang memiliki arti harfiah “menyelidiki secara tuntas”.

Kriteria riset yang baik untuk bidang sains dan teknologi

Sebuah riset yang baik akan menghasilkan:

  1. Produk atau inovasi baru yang dapat langsung dipakai oleh industri (bukan hanya sebatas prototipe)
  2. Paten
  3. Publikasi di jurnal internasional

Penelitian bisa menggunakan metode ilmiah (scientific method) atau non-ilmiah (unscientific method). Pencarian kebenaran secara ilmiah dan non-ilmiah sudah saya bahas di artikel berjudul hakekat kebenaran. Tapi kalau kita lihat dari definisi diatas, penelitian banyak bersinggungan dengan pemikiran kritis, rasional, logis (nalar), dan analitis, sehingga akhirnya penggunaan metode ilmiah (scientific method) adalah hal yang jamak dan disepakati umum dalam penelitian. Metode ilmiah juga dinilai lebih bisa diukur, dibuktikan dan dipahami dengan indera manusia. Penelitian yang menggunakan metode ilmiah disebut dengan penelitian ilmiah (scientific research).

Negara Populasi (juta) Riset
 Indonesia 245,45 113
 Malaysia 24,39 117
 Vietnam 84,40 201
 Singapura 4,49 253
 Pakistan 165,80 584
 Taiwan 23,04 3.911
Korea Selatan 48,85 6.493
 Australia 20,26 6.961
Publikasi Riset di Bidang Fisika.
Sumber:SLAC Library, Stanford University,
AS. Mei 2006

 

Ketidakpuasan manusia terhadap cara-cara non-ilmiah (unscientific) membuat manusia menggunakan cara berpikir deduktif atau induktif. Kemudian orang mulai memadukan cara berpikir deduktif dan induktif, dimana perpaduan ini disebut dengan berpikir reflektif (reflective thinking). Diperkenalkan oleh John Dewey, yang akhirnya menjadi dasar metode penelitian ilmiah. Tahapannya adalah:

  1. The Felt Need (adanya suatu kebutuhan): Seseorang merasakan adanya suatu kebutuhan yang menggoda perasaanya sehingga dia berusaha mengungkapkan kebutuhan tersebut.
  2. The Problem (menetapkan masalah): Dari kebutuhan yang dirasakan pada tahap the felt need diatas, diteruskan dengan merumuskan, menempatkan dan membatasi permasalahan (kebutuhan). Penemuan terhadap kebutuhan dan masalah boleh dikatakan parameter yang sangat penting dan menentukan kualitas penelitian. Studi literatur, diskusi, dan pembimbingan dilakukan sebenarnya untuk men-define kebutuhan dan masalah yang akan diteliti.
  3. The Hypothesis (menyusun hipotesis): Jawaban atau pemecahan masalah sementara yang masih merupakan dugaan yang dihasilkan misalnya dari pengalaman, teori dan hukum yang ada.
  4. Collection of Data as Avidance (merekam data untuk pembuktian): Membuktikan hipotesis dengan eksperimen, pengujian dan merekam data di lapangan. Data-data dihubungkan satu dengan yang lain untuk ditemukan kaitannya. Proses ini disebut dengan analisis. Kegiatan analisis dilengkapi dengan kesimpulan yang mendukung atau menolak hipotesis.
  5. Concluding Belief (kesimpulan yang diyakini kebenarannya): Berdasarkan analisis yang dilakukan pada tahap ke-4, dibuatlah sebuah kesmpulan yang diyakini mengandung kebenaran, khususnya untuk kasus yang diuji.
  6. General Value of the Conclusion (memformulasikan kesimpulan umum): Kesimpulan yang dihasilkan tidak hanya berlaku untuk kasus tertentu, tetapi merupakan kesimpulan (bisa berupa teori, konsep dan metode) yang bisa berlaku secara umum, untuk kasus lain yang memiliki kemiripan-kemiripan tertentu dengan kasus yang telah dibuktikan diatas.

Kalau ada pertanyaan untuk apa penelitian perlu dilakukan? Mungkin beberapa jawabannya adalah:

  1. Memecahkan atau menyelesaikan permasalahan yang dihadapi
  2. Menemukan, mengembangkan dan memperbaiki teori
  3. Menemukan, mengembangkan dan memperbaiki metode kerja

 

  1. Sumber :

    Badriah, D.L. 2006. Studi Kepustakaan, Menyusun Kerangka Teoritis, Hipotesis Penelitian dan Jenis Penelitian. http://www.kopertis4.or.id/Pages/data%202006/

    kelembagaan/studi_kepustakaan_DR%5B1%5D._Dewi.Doc

    Mart, T. 2006.  Iptek Indonesia. Berada di Titik Nadir, Siapa Bertanggung Jawab?  Kompas, Senin, 8 Mei 2006

    http://www.ktiguru.org/index.php/interpretatif-2

    http://id.wikipedia.org/wiki/Penelitian

     

 

REPOST : dosen.narotama.ac.id/ciri tindakan ilmiah

 

Iklan

Responsi Manajemen [Soal, Jawaban, dan Contoh Kasus]

  1. Mengapa manajemen strategi dibutuhkan oleh perusahaan?

Manajemen Strategi tentu sangat dibutuhkan oleh suatu perusahaan, karena manajemen strategi dapat membantu perusahaan untuk menghadapi perubahan-perubahan atau ancaman-ancaman yang  timbul dan tidak siap di antisipasi oleh perusahaan dimasa sekarang maupun dimasa yang akan datang.

 

  1. Bagaimana tahapan-tahapan dalam penyusunan strategi perusahaan?, dan siapa saja yang terlibat dalam penyusunan strategi?

Menurut Fred R. David proses manajemen strategi terdiri dari tiga tahapan, yaitu, memformulasikan strategi, mengimplementasikan strategi dan mengevaluasi strategi.

  1. Tahap memformulasikan strategi antara lain menetapkan visi dan misi, mengidentifikasi peluang dan tantangan yang dihadapi organisasi dari sudut pandang eksternal, menetapkan kelemahan dan keunggulan yang dimiliki organisasi dari sudut pandang internal, menyusun rencana jangka panjang, membuat strategi-strategi alternatif dan memilih strategi tertentu yang akan dicapai.
  2. Tahap mengimplementasikan strategi memerlukan suatu keputusan dari pihak yang berwenang dalam mengambil keputusan untuk menetapkan tujuan tahunan, membuat kebijakan, memotivasi pegawai, dan mengalokasikan sumber daya yang dimiliki sehingga strategi yang sudah diformulasikan dapat dilaksanakan. Pada tahap ini dilakukan pengembangan strategi pendukung budaya, merencanakan struktur organisasi yang efektif, mengatur ulang usaha pemasaran yang dilakukan, mempersiapkan budget, mengembangkan dan utilisasi sistem informasi serta menghubungkan kompensasi karyawan terhadap kinerja organisasi. Mengimplementasikan strategi sering disebut sebagai“action stage” dari manajemen strategis. Pengimplementasian strategi memiliki maksud memobilisasi para pegawai dan manajer untuk menterjemahkan strategi yang sudah diformulasikan menjadi aksi.
  3. Tahap mengevaluasi strategi adalah tahap terakhir dalam manajemen strategis. Para manajer sangat perlu untuk mengetahui ketika ada strategi yang sudah diformulasikan tidak berjalan dengan baik. Evaluasi strategi memiliki tiga aktifitas yang fundamental, yaitu mereview faktor-faktor internal dan eksternal yang menjadi dasar untuk strategi saat ini, mengukur performa dan mengambil langkah korektif.

 

  1. Bagaimana hubungan visi, misi, dan tujuan dengan strategi perusahaan?

Visi, misi, dan tujuan perusahaan mempunyai korelasi dengan strategi perusahaan. Korelasi ini dapt dilihat dari peran Visi yang mencerminkan alasan kuat tentang keberadaan suatu perusahaan, Misi yang merupakan pernyataan manajemen mengenai gambaran seluruh perusahaan, sedangkan tujuan merupakan pernyataan yang berhubungan dengan standar produksi, pasar, dan keuangan yang ingin dicapai oleh perusahaan. Dari ketiga instrument ini akan menghasilkan suatu strategi perusahaan yang meliputi bauran produk, target pelanggan, metode produksi, dan berbagai keputusan-keputusan manajerial lainya.

 

  1. Bagaimana hubungan antara SWOT analysis dengan strategi perusahaan?

Korelasi antara SWOT dan strategi perusahaan yaitu, Strategi perusahaan dirancang berdasarkan jalan pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar – besarnya dengan menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman yang diterapkan melalui  pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada berdasarkan kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada.

5. Berikan ilustrasi analisis SWOT dengan strategi dengan menggunakan perusahaan yang Anda ketahui.

Metode analisis SWOT merupakan alat yang tepat untuk menemukan masalah dari 4 (empat) sisi yang berbeda, dimana aplikasinya adalah bagaimana kekuatan (strengths) mampu mengambil keuntungan dari sebuah peluang (opportunities) yang ada, kemudian bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan, selanjutnya bagaimana kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats) menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru. Dengan saling berhubungannya 4 faktor tersebut, maka membuat analisis ini memberikan kemudahan untuk mewujudkan visi dan misi suatu perusahaan. Untuk menyempurnakan atau melengkapi pemahaman tentang analisis SWOT, maka saya akan memberikan bagaimana contoh analisis SWOT pada
suatu perusahaan dari artikel dibawah ini.

Contoh Analysis SWOT PT Indofood Sukses Makmur Tbk.

 

Indofood Agri Resources Ltd, anak usaha PT Indofood Sukses Makmur Tbk yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Singapura, menguasai hingga 64,4 persen saham PT PP London Sumatera Indonesia Tbk. IndoAgri dan anak usahanya PT Salim Ivomas Pratama menandatangani perjanjian jual beli bersyarat dengan pemegang saham mayoritas Lonsum yakni First Durango Pte Ltd, Ashmore Investment Management Limited selaku manajer investasi serta Keluarga Sariaatmadja pada 25 Mei 2007. Senin (28/5/2007). Grup IndoAgri akan mengakuisi 500.095.000 saham Lonsum yang telah diterbitkan dan surat utang wajib konversi (Mandatory Convertible Notes/MCN) sebesar US$ 47 juta yang akan jatuh tempo pada tahun 2009. MCN ini diterbitkan oleh Lonsum dan wajib dikonversikan dengan harga nominal menjadi 269.343.500 saham baru yang telah disetor penuh, dengan nilai tunai sekitar Rp 5 triliun. Grup IndoAgri telah menyetujui untuk menempatkan deposito sejumlah US$ 10 juta pada agen escrow, yang akan tergantung kepada penyelesaian rencana pengambil-alihan. Setelah penyelesaian transaksi pengambilalihan dan dengan asumsi bahwa MCN telah dikonversi, maka Grup IndoAgri akan menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan sekitar 64,4 persen dari modal yang telah ditingkatkan. Pada saat penyelesaian transaksi pengambilalihan, penawaran tender atas sekitar 35,6 persen saham Lonsum berdasarkan modal yang telah ditingkatkan, harus dilaksanakan pada harga sebagaimana diatur dalam peraturan Bapepam. Total nilai dari rencana pengambil-alihan dan penawaran tender akan dibiayai dari dana internal dan pinjaman. Tergantung kepada evaluasi selanjutnya, sebagian pinjaman kemungkinan dapat dibiayai kembali dengan modal atau aktifitas fund raising. Rencana akuisisi ini akan didasarkan pada pelaksanaan due diligence oleh Grup IndoAgri, persetujuan para pemegang saham IndoAgri, Indofood dan First Pacific Company Limited HKEx:00142, serta seluruh institusi yang terkait di Indonesia, Singapura dan Hong Kong. Rencana pengambilalihan akan memperkuat bisnis model perkebunan terpadu Grup IndoAgri, antara lain mengembangkan usaha inti yaitu perkebunan, memperluas lahan dan perkebunan yang telah ditanami dengan kelapa sawit, meningkatkan produksi, memenuhi kebutuhan internal untuk CPO dan menjadi produsen atas bibit kelapa sawit unggul. Direktur Indofood Thomas Tjhie menyatakan, melalui rencana pengambilalihan ini, realisasi rencana jangka panjang Grup IndoAgri untuk memiliki 250.000 hektar perkebunan kelapa sawit akan dapat dipercepat. “Setelah penyelesaian transaksi akuisisi, Grup IndoAgri akan menjadi salah satu pemilik perkebunan yang terbesar di Indonesia,” ujat Thomas. Grup IndoAgri adalah perusahaan perkebunan yang terintegrasi dan pengolah minyak goreng, margarin dan shortenings dengan merek terkemuka. Pada tanggal 31 Maret 2007, Grup IndoAgri memiliki lahan perkebunan sekitar 224.083 hektar, diantaranya sekitar 74.878 hektar telah ditanami dengan kelapa sawit. Dengan rencana pengambilalihan ini, total lahan perkebunan dan total lahan yang telah ditanami dengan kelapa sawit masing-masing akan meningkat menjadi sekitar 387.483 hektar dan sekitar 138.081 hektar. Secara keseluruhan luas lahan yang telah ditanami adalah sekitar 165.000 hektar termasuk tanaman karet dan tanaman lainnya.

Strategi pengembangan perusahaan indofood

  1. Indofood Sukses Makmur Tbk., yang telah menjadi perusahaan raksasa terbesar di Indonesia yang selalu mendirikan unit-unit bisnis pendukungnya untuk mencapai keinginan terciptanya satu sistem produksi yang terintegrasi. Tentu saja dengan memiliki sistem produksi yang terintegrasi, PT. Iindofood dengan mudah menguasai pasar, dan tidak tergantung terhadap pemasok, karena bahan baku sudah dimiliki.

Dalam pengembangan pasar dan peningkatan kemampuan perusahaan, PT. Indofood menggunakan strategi Intensif (Intensive strategy) yang terdiri dari tiga strategi utama yaitu:

Penetrasi Pasar, Pengembangan Pasar, dan Pengembangan Produk.

  1. Strategi Penetrasi Pasar. Strategi ini berusaha untuk meningkatkan market share suatu produk melalui usaha-usaha pemasaran yang lebih besar. Dapat diimplementasikan dengan menambah jumlah tenaga penjual, iklan, atau usaha promosi lainnya.
  2. Strategi Pengembangan Pasar. Tujuan untuk memperbesar pangsa pasar dengan memperkenalkan produk atau jasa ke daerah-daerah baru.
  3. Strategi Pengembangan Produk. Meningkatkan penjualan dengan meningkatkan atau memodifikasi produk-produk yang ada.

Strategi Pengembangan Produk, sesuai dengan Strategi Diferensiasi ,Strategi ini dicirikan dengan keputusan perusahaan untuk menciptakan persepsi pasar potensial terhadap produk baru yang berbeda atau unik dengan harapan calon konsumen mau membeli dengan harga mahal karena adanya perbedaan itu. Seperti yang kita ketahui, PT. Indofood terutama produk mie instannya memiliki keunikan rasa dan promosi iklan yang mengusung tema nusantara. Hal ini yang mendasari kami bahwa PT. Indofood menggunakan strategi diferensiasi karena keunikan dan cakupan pasar yang luas terhadap produk mie instannya.

Strategi yang digunakan PT. Indofood untuk mengakuisisi PT. Londsum adalah Strategi Integrasi Vertikal (Vertical Integration Strategy). Strategi ini menghendaki perusahaan melakukan pengawasan lebih terhadap distributor (Forward Integration Strategy), pemasok (Backward Integration Strategy), dan/atau para pesaingnya (Horizontal Integration Strategy).

Akuisisi oleh PT. Indofood menurut kami, adalah pengambilalihan kepemilikan mayoritas saham perusahaan (PT. Londsum). Dengan tujuan mendapatkan kepemilikan atau meningkatkan pengendalian bagi pemasok. Diketahui bahwa PT. Londsum memiliki perkebunan kelapa sawit yang dapat digunakan PT. Indofood sebagai sumber bahan baku pembuatan produknya.

Dari sudut pandang PT. Indofood adalah tepat dengan mengakuisisi PT. Londsum. Dimaksudkan dengan adanya kepemilikan saham mayoritas maka pengendalian dan pengawasan pasokan bahan baku sepenuhnya berada pada PT. Indofood. Jika PT. Indofood hanya merger dengan PT. Londsum, kemungkinan terciptanya resiko atau konflik di antara kedua perusahaan semakin besar.

Berdasarkan analisis dari bahan bacaan “Sukses PT. Indofood Sukses Makmur Tbk, tidak hanya untuk Mie instan” diatas, kami simpulkan bahwa suatu unit bisnis/perusahaan dapat melakukan penerapan strategi generik dengan memperhatikan beberapa strategi di dalamnya. PT Indofood Tbk, banyak melakukan diferensiasi produk untuk memenangkan persaingan hingga menguasai pangsa pasar saat ini. Dengan demikian, didapatkan bahwa strategi generik yang diterapkan oleh Indofood adalah diferensiasi produk unggulan serta mengakuisisi PT Lonsum untuk memperluas lahan perkebunan.

Jadi dari contoh sebuah kompetisi yg di koordinasikan oleh LPPM ITB dapat kita ambil kesimpulan bahwa setiap koordinasi atau kerja sama diperlukan dalam pengembangan suatu program atau teknologi yang baru,dengan adanya koordinasi setiap pekerjaan atau tugas akan lebih efisien,sesuai dengan keinginan dan tidak memakan banyak biaya,yang intinya bila kita memiliki koordinasi yang baik maka akan mengahsilkan keuntungan.

SWOT  perusahaan Indofood

Strength

  1. Keahlian dalam cita rasa Indonesia
  2. Produksi rendah biaya
  3. Jangkauan distribusi luas
  4. Kecepatan dalam menjangkau konsumen
  5. Brand yang sudah terkenal

 

Weakness

  1. Terlalu banyak Brand yang dikeluarkan
  2. Terlalu banyak inovasi rasa yang dibuat oleh Indofood
  3. Permintaan pasar yang belum terpenuhi

 

Opportunity

 

  1. Melakukan ekspansi ke luar negeri
  2. Melakukan join dengan perusahaan yang memiliki produk yang sejenis
  3. Melakukan diversifikasi terhadap produk lain

 

Treath

  1. Ketatnya persaingan yang dilakukan pesaing dalam hal iklan maupun inovasi
  2. Tidak fokus terhadap satu jenis produk

 

PAKET DEREGULASI PERBANKAN 1980 – 1990

Tahun 1983

Melalui kebijakan 1 Juni 1983. Deregulasi ini menyangkut tiga segi: (1) peningkatan daya saing bank pemerintah, (2) penghapusan pagu kredit, dan (3) pengaturan deposito berjangka.

Dalam ketentuan itu, bank pemerintah bebas menentukan suku bunga deposito serta suku bunga kredit. Langkah ini dimaksudkan agar masyarakat yang memiliki dana nganggur tertarik untuk menyimpan di bank pemerintah. Sebab pada saat itu, suku bunga yang ditawarkan oleh bank swasta lebih tinggi ketimbang bank pemerintah. Yaitu 18 persen, sementara bank pemerintah hanya 14-15 persen.

Tahun 1985

Pemerintah memberlakukan Inpres Nomor 4 Tahun 1985 yang mengalihkan tugas dan wewenang Ditjen Bea dan Cukai (BC) dalam pemeriksaan barang kepada surveyor asing Sociate Generale de Surveilance. (SGS). . Ini sama saja dengan pemerintah memberikan kepercayaan penuh kepada pihak asing (SGS) dalam memeriksa barang. Keluarnya Inpres Nomor 4, tak lain sebagai reaksi pemerintah atas penyalahgunaan wewenang oleh BC yang banyak diributkan oleh dunia usaha.

Tahun 1986

Lewat paket kebijakan 6 Mei (Pakem), pemerintah menghapus sertifikat ekspor (SE). SE merupakan fasilitas empuk yang banyak digunakan eksportir untuk memperoleh pengembalian bea masuk dan unsur subsidi, ini diberikan bersamaan dengan kredit ekspor.

Tahun 1987

Pemerintah mengeluarkan deregulasi 15 Januari 1987, tentang industri kendaraan bermotor, mesin industri, mesin listrik, dan tarif bea masuk. Untuk bea masuk, pemerintah memberikan keringanan bea terhadap barang-barang tertentu, seperti Tekstil, kapas, dan besi baja. Sedangkan untuk industri mesin pemerintah memberikan perlakuan kemudahan ijin usaha. Dan untuk industri kendaraan bermotor, pemerintah memberikan kemudahan perakitan kendaraan dan pembuatan dan perakitan bagian kendaraan bermotor.

Juni 1987

Pemerintah mengeluarkan paket deregulasi, lewat PP Nomor 13 Tahun 1987 dan Keppres Nomor 16. Kali ini pemerintah menyederhanakan perijinan investasi bidang pertambangan, pertanian, kesehatan dan perindustrian. Yang semula ada empat ijin investasi, setelah kebijakan itu hanya tinggal dua.

24 Desember 1987

Pemerintah kembali membuat kejutan dengan memberikan kemudahan dan kelonggaran berusaha. Dalam bidang penamanan modal, PMA diperlakukan sama dengan PMDN dalam hal kepemilikan saham.

Untuk fasilitas keringanan bea masuk, semula hanya diberikan kepada barang tertentu, kini diberikan keringanan bea masuk untuk semua bidang usaha yang diijinkan. Untuk ekspor, pemerintah menghapus semua perijinan ekspor dan menggantinya dengan ijin usaha. Sementara perusahaan asing yang sudah berproduksi dan bisa ekspor, diijinkan untuk membeli hasil produksi perusahaan lain untuk di ekspor. Sedangkan bidang ekspor, PT Kratau Steel yang selama itu ditunjuk sebagai pelaksana 92 komoditi produk industri logam, dengan kebijakan baru hak impornya hanya tinggal 50 komoditi. Dan untuk bidang pariwisata yang semula ada 33 jenis ijin, dengan kebijakan Desember itu, dipotong tinggal dua ijin.

Tahun 1988

Inilah tahun booming dunia perbankan Indonesia. Bayangkan, hanya dengan modal Rp 10 milyar, seorang pengusaha punya pengalaman atau tidak sebagai bankir, sudah bisa mendirikan bank baru. Maka, tak pelak lagi berbagai macam bentuk dan nama bank baru bermunculan bagai jamur di musim hujan. Itulah salah satu bentuk kebijakan deregulasi 27 Oktober 1988, atau yang dikenal dengan sebutan Pakto 88. Tak hanya itu, bank asing yang semula hanya beroperasi di Jakarta, kini bisa merentangkan sayapnya ke daerah lain di luar Jakarta. Sementara untuk mendirikan bank perkreditan, modal yang disetor menurut Pakto 88, hanya Rp 50 juta seseorang sudah bisa punya bank BPR.

21 November 1988

Pemerintah kembali mengeluarkan paket deregulasi, yang berisi pengikisan berbagai rintangan yang selama ini malang-melintang di sekitar arus distribusi barang dan angkutan laut, pemudahan distribusi arus barang produk pabrik-pabrik modal asing, penurunan bea masuk bahan baku plastik dari 30-60 persen menjadi lima persen.

Lalu, terhadap kritikan monopoli PT Krakatau Steel, lewat paket November ini, pemerintah membabat 26 jenis tarif pos. Dengan penghapusan itu, pabrik-pabrik boleh impor besi baja untuk pengecoran, yang selama ini dikuasai oleh buatan pabrik baja di Cilegon itu.

ANALISIS :

Paket – Paket Deregulasi yang muncul pada tahun 80an disebabkan karena terjadinya multi krisis di Indonesia, dimana menyebabkan perekonomian di Indonesia tidak stabil. Ketidakstabilan tersebut membuat perbankkan di Indonesia terpuruk sehingga untuk menolong keterpurukan tersebut maka pemerintah mengeluarkan beberapa kebijakan – kebijakan di antaranya :

  • Paket deregulasi 7 Juli 1997 yang Isinya: pemangkasan 1.600 pos tarif bea masuk untuk berbagai produk sektor pertanian, perdagangan dan kesehatan. Deregulasi itu diikuti juga dengan peraturan pemerintah (PP) mengenai penerimaan pajak dan retribusi daerah, dan pembatasan pemberian kredit oleh bank untuk pengadaan dan pengolahan tanah.
  • kebijakan 1 Juni 1983, deregulasi ini menyangkut tiga segi: peningkatan daya saing bank pemerintah, penghapusan pagu kredit, dan pengaturan deposito berjangka.
  • Pemerintah memberlakukan Inpres Nomor 4 Tahun 1985 yang mengalihkan tugas dan wewenang Ditjen Bea dan Cukai (BC) dalam pemeriksaan barang kepada surveyor asing SGS.
  • Paket kebijakan 6 Mei (Pakem), pemerintah menghapus sertifikat ekspor (SE). SE merupakan fasilitas empuk yang banyak digunakan eksportir untuk memperoleh pengembalian bea masuk dan unsur subsidi, ini diberikan bersamaan dengan kredit ekspor.
  • Pemerintah mengeluarkan deregulasi 15 Januari 1987, tentang industri kendaraan bermotor, mesin industri, mesin listrik, dan tarif bea masuk.
  • Pemerintah mengeluarkan paket deregulasi, lewat PP Nomor 13 Tahun 1987 dan Keppres Nomor 16. Kali ini pemerintah menyederhanakan perijinan investasi bidang pertambangan, pertanian, kesehatan dan perindustrian. Kebijakan deregulasi 27 Oktober 1988, atau yang dikenal dengan sebutan Pakto 88.Di antara kebijakan – kebijakan di atas, kebijakan yang paling di kenal adalah pakto 88.

Paket Oktober 2006

Setelah paket kebijakan perbankan Januari (Pakjan) 2006, paket kebijakan infrastruktur, dan paket kebijakan investasi, Bank Indonesia (BI) mengeluarkan paket kebijakan perbankan Oktober (Pakto) 2006. Kebijakan terakhir itu boleh dikatakan sebagai gong dari semua paket yang dikeluarkan selama 2006. Secara keseluruhan, Pakto 2006 berisi 14 peraturan yang bertujuan memperluas ruang gerak dan memperkuat industri perbankan dalam memacu pertumbuhan ekonomi.  Rinciannya, 11 peraturan Bank Indonesia (PBI) bagi bank umum, bank syariah, dan BPR/BPRS yang bertujuan memberikan ruang gerak lebih leluasa dalam pembiayaan sektor usaha produktif.  Tiga PBI bertujuan mendorong penguatan dan penataan kembali industri perbankan dengan memperhatikan penerapan prinsip kehati-hatian. Intinya, deregulasi tersebut bertujuan meningkatkan fungsi intermediasi perbankan dalam menyalurkan kredit dengan tetap mengandalkan prinsip kehati-hatian.

Bila kita menengok ke belakang, keluarnya Pakto 2006 tersebut sebenarnya hampir mirip dengan paket kebijakan perbankan Oktober 1988. Deregulasi perbankan yang dikenal dengan Pakto ’88 itu dinilai banyak kalangan sebagai “biang” krisis finansial yang melanda pada medio 1997.

Keluarnya Pakto 2006 dilatarbelakangi lesunya sektor riil akibat minimnya kredit yang disalurkan perbankan. Saat ini, bank-bank lebih suka menanamkan dananya dalam bentuk sertifikat Bank Indonesia (SBI) lantaran lebih safe daripada kredit yang rawan macet. Karena itu, bank sentral sedikit melonggarkan kebijakan supaya kredit yang tersalurkan bisa optimal.

Pakto 88

Deregulasi perbankan pada 1988 bertujuan meningkatkan mobilisasi dana domestik setelah kondisi perekonomian mati suri akibat kebijakan uang ketat (tight money policy). Saat itu, BI secara radikal mempermudah persyaratan membuka bank baru maupun cabang bank dan menurunkan cadangan wajib minimum (reserve requirement) dari 15 persen menjadi 2 persen.

Pakto ’88 berpengaruh sangat dahsyat terhadap perkembangan perbankan. Baik dari sisi jumlah bank maupun jaringan kantor. Jumlah bank sebelum Pakto ’88 tidak sampai 70 buah dengan 1.863 kantor cabang. Namun, setelah Pakto ’88 sampai 1997 saat krisis finansial menghajar, jumlah bank menjadi 238 buah dengan 7.775 kantor cabang. Sebuah perkembangan yang fantastis. 

Pakto 88 vs Pakto 2006

Jika dilihat secara seksama, inti dua paket kebijakan itu adalah sama. Yakni, bertujuan menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan mendongkrak kucuran kredit. Di tengah situasi ekonomi yang lesu pasca kenaikan harga BBM akhir tahun lalu, Pakto 2006 memang bisa memberikan angin segar.

Tapi, harus diingat, krisis yang terjadi pada 1997-1998 juga terjadi akibat Pakto 1988 yang memberikan kelonggaran luar biasa bagi sistem perbankan di tanah air.
Waktu itu, hampir semua grup usaha memiliki bank sendiri. Akibatnya, asas kehati-hatian diterabas dan pelanggaran batas maksimum pemberian kredit (BMPK) terjadi di mana-mana. Buahnya, krisis ekonomi menenggelamkan Indonesia hampir satu dekade lamanya.

Karena itu, kita harus belajar dari masa silam. Jangan sampai deregulasi perbankan yang dilakukan BI mengakibatkan krisis yang sama pada masa mendatang.

TUGAS KULIAH : Makalah “Likuiditas Perbankan”

Makalah “Likuiditas Perbankan”

Ditujukan Kepada Dosen Pengampu Mata Kuliah Manajemen Bank Dan Regulasi

                     Di susun oleh :

Inka Nuromavita (12.05.51.0131)

Septiawan Tri Arsandi (14.05.51.0186)

Fitiana Arumi (12.05.51.0023)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN ; FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS STIKUBANK SEMARANG

 

Pembahasan

 

  1. Penegertian Manajemen Likuiditas Bank

Beberapa penulis memberikan pengertian likuidias antara lain sebagai berikut:
Menurut Joseph E. Burns, Likuiditas bank berkaitan dengan kemampuan suatu bank untuk menghimpun sejumla tertentu dana dengan biaya tertentu dan dalam jangka waktu tertentu. Pernyataan tersebut sependapat dengan Oliver G. Wood, Jr yang menyatakan bahwa Likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi semua penarikan dana oleh nasabah deposan, kewajiban yang telah jatuh tempo dan memenuhi permintaan kredit tanpa penundaan. Tak berbeda jauh, Wiliam M. Glavin menyatakan bahwa Likuiditas berarti memiliki sumber dana yang cukup tersedia untuk memenuhi semua kewajiban.

Setelah mengetahui definisi likuiditas, berikut ini adalah definisi mengenai manajemen likuiditas menurut beberapa ahli:

  • Manajemen likuiditas melibatkan perkiraan permintaan dana oleh masyarakat dan penyediaan cadangan untuk memenuhi semua kebutuhan (Duane B. Graddy)
  • Manajemen likuiditas melibatkan perkiraan sumber dana dan penyediaan kas secara terus menerus baik kebutuhan jangka pendek atau musiman maupun kebutuhan jangka panjang. (Oliver G. Wood, Jr)

Secara umum, pengertian likuditas adalah kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dana (cash flow) dengan segera dan dengan biaya yang sesuai, dimana fungsi dari likuditas secara umum untuk menjalankan transaksi bisnisnya sehari-hari, mengatasi kebutuhan dana yang mendesak, dan memuaskan permintaan nasabah akan pinjaman dan memberikan fleksibiltas dalam meraih kesempatan investasi menarik yang menguntungkan.

Pengertian likuiditas bank adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajibannya, terutama kewajiban dana jangka pendek. Dari sudut aktiva, likuiditas adalah kemampuan untuk mengubah seluruh aset menjadi bentuk tunai (cash), sedangkan dari sudut pasiva, likuiditas adalah kemampuan bank memenuhi kebutuhan dana melalui

peningkatan portofolio liabilitas.

Likuiditas bank menurut Josep E. Burns terdiri dari tiga unsur yaitu” jumlah dana, biaya dana, dan waktu yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas bank”. Josep menambahkan, semakin besar jumlah dana yang dapat diperoleh suatu bank dalam waktu tertentu, untuk memenuhi likuiditasnya, dan dengan biaya yang telah ditetapkan, semakin likuid bank tersebut. Semakin cepat bank memperoleh sebuah dana dengan biaya tertentu, semakin tingi pula likuiditas bank yang bersangkutan. Selanjutnya, semakin rendah biaya dana yang diperolehnya tersebut dalam suatu periode tertentu, semain likuid pula bank yang bersangkutan.

Dalam kegiatan operasional bank sehari-hari manajemen likuiditas merupakan masalah yang sangat penting. Seperti kita ketahui bahwa sebagian dana yang dikelola bank bersumber dari dana pihak ketiga atau masyarakat yang dititipkan pada bank bersangkutan baik dalam bentuk rekening giro, tabungan, deposito dan dalam bentuk simpanan lainnya.Simpanan tersebut harus dibayar jatuh tempo dan sebagian harus segera dibayar pada saat ditagih. Masalahnya adalah bagaimana bank dapat memenuhi kebutuhan penarikan dana oleh nasabah pada saat simpanannya jatuh tempo atau pada saat diminta. Sementara pada waktu yang sama bank harus pula menggunakan dana tersebut dengan mengalokasikannya ke dalam berbagai bentuk invesasi untuk memperoleh laba guna membayar biaya-biaya dana tersebut dan biaya operasional lainnya. Masalah ini akan tetap menjadi suatu masalah klasik dalam pengelolaan aktiva-pasiva suatu bank yaitu konflik antar likuiditas disuatu pihak dan profitabilitas di pihak lain.

“Konsep likuiditas meurut Oliver G. Wood, Jr., University of South Carolina bahwa suatu bank dianggap likuid apabila bank memenuhi kategori di bawah ini:”

1. Memegang sejumlah alat likuid, cash assets, yang terdiri dari uang kas, rekening pada bank sentral dan rekening pada bank-bank lainnya yang sama dengan jumlah kebutuhan likuiditas yang diperkirakan.

2.Memegang kurang dari jumlah alat-alat likuid sebagaimana disebutkan di atas akan tetapi bank tersebut memiliki surat-surat berharga berkualitas tinggi yang dapat segera ditukar atau dialihkan menjadi uang tanpa mengalami kerugian baik sebelum jatuh tempo maupun pada waktu setelah jatuh tempo.

3.Memiliki kemampuan untuk memperoleh alat-alat likuid melalui penciptaan hutang, misalnya penggunaan fasilitas diskonto, call money, penjualan surat berharga dengan repurchase agreement.Bila kita tinjau maka, secara umum dapat dikatakan bahwa sumber-sumber likuiditas perbankan dapat digolongkan dari dua bagian baik itu dari sisi kiri maupun sisi kanan dari neraca tertimbang. Stored Liquidity  secara umum dapat dikatakan sebagai suatu proses yang alami dalam artian bahwa sifat alami dari pinjaman bank dan fungsi-fungsi investasi adalah untuk melemparkan kas untuk mendapatkan pembayaran bunga, pembayaran pokok pinjaman, asset dana yang jatuh tempo. Proses yang tidak berlangsung secara terus menerus mengikuti suatu aksi khusus yang diambil oleh bank untuk mempercepat arus kas masuk. pada sisi kanan neraca, sumber likuiditas antara lain insrumen pasar uang dan instrument antar bank, surat-surat pasar uang, dan sebagainya.

Bila ditinjau dari aspek lain, maka sumber likuiditas bank adalah cadangan likuiditas yang terdiri dari primery reserve dan secoundary reserve.

  1. Primary reserve terdiri dari kas dan saldo rekening Koran pada bank Indonesia (yang juga menampung ratio reserve requirement 2%), sedangkan
  2. secoundary reserve terdiri dari rekening Koran pada bank lain serta money market instrument (Sertifikat Bank Indonesia, Bank Acceptance, deposito pada bank lain yang akan jatuh tempo, dan dokumen tagihan jangka pendek). Sumber likuiditas lain adalah pinjaman pada debitur yang akan jatuh tempo, call money, sindikasi kredit, last resort fund.
  1. Penyebab Timbulnya Masalah Likuiditas
    Brokered deposit adalah dana yang ditempatkan oleh para broker di pasar uang. teknik manajemen liability pada tahun 1980an memungkinkan bank mencari sumber dana dari lembaga keuangan bukan bank, salah satunya yaitu brokered deposit. Para broker yang akan melakukan kegiatan di pasar uang dapat menetapkan depositnya hanya sebesar sepertiga dari total yang dibutuhkan.
  • Pelayanan kepada para broker yang menempatkan dananya pada bank adalah terutama ditunjukan kepada mereka yang memiliki reputasi dan lembaga besar yang kurang dikenal di pasar uang.  Teknik brokered deposit ini telah ditelusuri untuk mencari sebab-sebab sebagian kecil kegagalan disekitar tahun 1980an, apakah karena menggunakan dana brokered deposit ini untuk mendanai pertumbuhan bank yang penuh resiko.

Apabila ditinjau lebih lanjut, penyebab masalah likuidits adalah bukan disebabkan kalah kliring semata, dalam hal ini kalah kliring hanyalah merupakan sebab langsung, sedangkan faktor yang lebih mendasar yang sebenarnya adalah manajemen likuiditas yang tidak baik dalam jangka waktu yang lama. Manajemen likuiditas yang tidak baik antara lain disebabkan pihak bank terlalu berani memberikan pinjaman tanpa memperhatikan portofolio atau komposisi dananya, misalnya dilihat dari loan to desosit ratio yang diatas 100%.

  • Keberanian mengambil risiko terlalu tinggi tanpa diimbangi dengan kemampuan memprediksi kondisi moneter dimasa depan akan menimbulkan masalah likuiditas pada bank tersebut tinggal menunggu waktunya saja. Keadaan easy atau tight money conditional adalah hal biasa yang harus dihadapi oleh manajer likuiditas. Jadi tidaklah tepat bila keadaan uang ketat yang terjadi saat ini dijadikan sebagai alasan dari timbulnya masalah likuiditas yang terjadi di dunia perbankan.
  • Ketidak tersediannya sumber-sumber dana likuiditas yang cukup untuk memenuhi kredit dan deposito akan menyulut timbulnya likuiditas. Pada umumnya gejala semacam ini  ditandai dengan kalah kliring yang dialami oleh suatu bank. Proses kegiatan kliring merupakan kegiatan rutin yang dilakukan oleh suatu bank terutama apabila suatu bank berlokasi disuatu kota yang banyak jumlah banknya. Hal ini terjadi karena pemegang rekening dari bank yang berbeda melakukan transaksi bisnis tertentu yang diikuti dengan proses pembayaran dengan cek masing-masing banknya.
  • Untuk memudahkan penyelesaiannya terutama apabila terlibat dalam transaksi bisnis dan pembayarannya melibatkan ratusan pemegang rekening suatu bank, proses kliring tanpa penyerahan uang secara fisik yang biasanya diatur oleh Bank Indonesia merupakan jalan keluarnya.
  • Proses terjadinya kalah kliring dapat diuraikan sebagai berikut:

sebagai contoh :  terdapat dua nasabah A dan B, nasabah A mempunyai rekening giro pada bank X dan nasabah B mempunyai rekening giro di bank Y. nasabah A menjual bahan bakunya kepada B sebasar Rp.200 Juta untuk dipakai dalam produksi dipabrik B.

Nasabah B membayar bahan baku yang dibeli dengan sebuah cek dari bank Y seminggu setelah transaksi. Cek sebesar Rp.200 juta tersebut diterima nasabah A dan disetorkan dalam rekenignya di bank X melalui proses kliring. Dengan asumsi bahwa masing-masing bank mempunyai rekening di bank Indonesia sebagai bagian dari nisbah tunai (reserve requirement) sebesar Rp.160 juta, maka proses kliring tersebut akan berakibat bahwa bank Y kalah kliring sebesar Rp.200 juta. Sebagai akibatnya bank Y di Bank Indonesia di debet dengan jumlah yang sama. Mengingat rekening bank Y di bank Indonesia hanya sebesar Rp.160 juta, maka terjadi saldo negative Rp.40 juta. Oleh karena itu agar tidak menimbulkan permasalahan, saldo negative tersebut harus ditutupi dan diatasi, salah satunya manajemen bank meminjam dari bank lain melalui mekanisme atau instrument pasar uang.

Apabila karena sesuatu hal, saldo negative tersebut tidak dapat ditutup, maka kekalahan kliring tersebut dapat berubah menjadi masalah likuiditas. Maka dari pada itu uang keluar masuk melalui kliring harus dikendalikan. Cara pengendalian dalam jangka pendek adalah melalui manajemen likuiditas yang baik, sehingga setiap kekalahan kliring tidak berakibat kepada terjadinya masalah likuiditas. Dalam jangka panjang, harus diusahakan agar terjadi keseimbangan antara aktiva dan pasiva sebagai dasar utama untuk pengelolaan likuiditas yang baik.

C. Indikasi Masalah Timbulnya Likuiditas

Sebenarnya manajemen likuiditas yang tidak baik yang menjerumuskan timbulnya maslah likuiditas yang ditandai ciri-ciri antara lain sebagai berikut:

1. Loan to Deposit Ratio (LDR) diatas 100%

Loan to deposit ratio adalah alat ukur tradisional untuk mengetahui suatu perbankan atau sejumlah besar deposit (tabungan, giro, dan deposito) yang telah diberikan dalam bentuk pinjaman. Suatu rasio yang tinggi menunjukan bahwa bank tersebut cenderung memiliki LDR yang lebih tinggi dibandingkan dengan bank yang lebih kecil. Tetapi bagaimanapu juga adalah suatu hal yang umum pada bank kecil untuk memiliki ratio yang lebih besar (lebih besar dari 100%) untuk bank-bank yang beroperasi di daerah pertanian. Feomena kejadian ini muncul pada saat musim tanam tiba dimana permintaan akan pinjaman lebih besar daripada yang di depositkan.
LDR dikenal sebgai suatu cara untuk mengukur tingkat likuiditas suatu bank. Semakin tinggi angka tersebut semakin tidak likuid posisi bank yang bersangkutan. Hal ini dapat terjadi karena pinjaman yang diberikan bukan hanya dibiayai dari dana deposito berjangka tetapi juga berasal dari dana curren account. Sifat curren account yang dapat ditarik sewaktu-waktu oleh pemiliknya dapat mengakibatkan masalah likuiditas suatu bank karena dananya masih tertanam dipinjaman yang masih belum jatuh tempo.

2.  Money center bank and purchased find (hot money)

Istilah money center bank dipakai untuk menyebut bank yang banyak mengandalkan operasinya dari pasar uang. Bank yang demikian ini biasanya mempunyai bahwa jumlah dana yang dikumpulkan lewat pasar uang relatif lebih besar jika dibandingkan dengan uang yang dikumpulkan dari masyarakat. Dalam situasi uang ketat, pinjaman dari pasar uang biasanya agak langka sehingga pinjaman pasar uang yang sudah jatuh tempo sulit untuk diperpanjang lagi. Apabaila dana dari pasar uang tersebut masih tertanam pada kredit, maka bank tersebut kemungkinan akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Purchased fund and hot money, secara konseptual hot money disebabkan oleh karena adanya suatu kurva penawaran yang betul-betul elastic, yang secara mudah dapat dikatakan bahwa dana yang kita dapat sangat sensitive terhadap perubahan tingkat bunga. Hot money biasanya terdiri dari sebagian besar dalam bentuk deposito, eurodollar, petrodollar, federal fund purchased, dan repo. Secara kasar dapat dikatakan bahwa sepertiga dari dana yang didapat oleh bank-bank besar adalah dana yang dibeli (hot money). Bank-bank yang banyak mengandalkan hot money menunjukan bahwa bank tersebut sebenarnya kurang memiliki simpanan dana untuk mengatasi masalah likuiditas.

3. Patuh secara kaku terhadap reserve requirement

Pada awalnya reserve requirement ditetapkan untuk menjaga likuiditas dan keselamatan bank. Sesuai dengan tujuannya, angka reserve requirement ditetapkan berdasarkan kebutuhan rata-rata nasabah untuk menarik uang kasnya. Namun demikian saat ini banyak orang menganggap bahwa ketentuan itu merupakan instrument moneter yang dipakai oleh bank sentral untuk mengendalikan jumlah uang yang beredar. Oleh karena itu, banyak bank yang menganggap bahwa dirinya dapat berkerja secara efesien apabila dapat memenuhi ketentuan itu secara kaku seperti yang ditetapkan oleh penguasa moneter. Tanpa pertimbangan kebutuhan kas yang sebenarnya sesuai dengan kebiasaan nasabah dalam menarik dana, bank yang bersangkutan dapat mengalami kalah kliring. Kebutuhan atau kebiasaan nasabah dapat berbeda antara suatu bank dengan bank yang lainnya sehingga kepatuhan secara kaku terhadap angka reserve requirement sebasar 2% dapat menimbulkan persoalan likuiditas.

4. Ekspansi kredit yang berlebihan

Banyak para banker uang berpikir bahwa kredit yang besar dapat menghasilkan keuntungan yang besar pula,. Dengan jalan pikiran semacam itu, para banker dapat lupa dengan menyetujui permohonan pinjaman sebanyak-banyaknya tanpa memperhatikan jumlah dana yang dapat dikumpulkan. Apabila hal ini sampai terjadi penarikan uang dari para debitur atas fasilitas pinjamannya dapat mengakibatkan terjadinya kalah kliring karena nilai cek masuk (dari debitur) yang ditarik atas banknya jauh lebih besar dari cek yang keluar (nasabah bank lain yang menyetor dana ke bank kita).
5. Lemahnya manajemen secoundary seresve

Industri perbankan yang sudah maju biasanya banyak sekali muncul inovasi keuangan. walaupun derajatnya relatif kecil, industry perbankan di Indonesia tergolong maju terutama setelah deregulasi sehingga muncul banyak instrument keuangan yang baru. Adanya instrument baru memungkinkan adanya secoundary reserve yaitu aktiva yang menghasilkan tetapi sifatnya relatif likuid. Dalam situasi uang ketat, peranan secoundary reserve sangat menentukan. Posisi likuid karena tidak mencukupinya posisi primary reserve dapa segera diatasi dengan perubahan secondary reserve sehingga dapat segera kembali ke posisi likuid. Masalah likuiditas yang nyaris terjadi akan dapat ditolong apabila bank yang bersangkutan tidak lemah manajemen secoundary reservenya.
6.Evergreening Loan

Istilah evergrrening loan dipakai untuk menunjukan pinajaman yang selalu diperpanjang pada saat jatuh tempo sehingga sifat pinjamannya menjadi abadi. Dalam situasi uang ketat, mungkin saja bank membutuhkan dana hasil pencairan pinjaman guna memenuhi likuiditasnya. Apabila pinjaman dimaksud telah terbiasa diperpanjang pada saat jatuh tempo dan ini berlaku untuk semua fasilitas kreditnya, kemungkinan besar bank yang seperti ini akan mengalami masalah likuiditas pada saat uang ketat.

7. Negatif gap position yang cukup besar

Istilah ini dipakai untuk menunjukan jumlah sensitive liability suatu bank lebih besar dari sensitive assetnya. Dalam posisi struktur asset seperti ini, maka bank yang bersangkutan harus melakukan repricing liability yang lebih banyak dari pada asetnya. Pada saat posisi uang ketat, dimana tarif bunga cenderung meningkat bank harus berani membayar bunga yang lebih besar dibandingkan sebelum masa jatuh tempo terhadap sensitive liability seperto depositi dan tabungan.

Dengan demikian sebenarnya masalah likuiditas sangat besar kemungkinannya untuk dapat dihindari. Hal ini karena sumber-sumber likuiditas sangat banyak jenisnya dan gejala-gejala awal masalah sangat jelas terlihat. Oleh karena itu masalah likuiditas terjadi karena manajemen lupa pada falsafah dasar bank yaitu bisnis kepercayaan atau memang manajer likuiditas kurang berkompeten dan kurang berpengalaman pada bidangnya. Apalagi dengan bermunculnya bank-bank baru sementara tenaga-tenaga manajer likuiditas juga langka, sehingga bank-bank baru seharusnya bersikap lebih konservatif dari pada bank-bank yang sudah mapan.

D.  Pendekatan Manajemen Likuiditas

Pendekatan manajemen likuiditas secara tradisional adalah dengan menyimpan dana di dalam bank atau menggunakan dana bank sentral sebagai sumber sementara hingga suatu penyesuaian yang permanen dapat dilaksanakan. Pendekatan ini dapat digambarkan sebagai teori pergeseran kemampuan atau konversi asset. Maksud dari pergeseran atau konversi tersebut adalah memindahkan atau mengganti likuid asset menjadi kas untuk mempertemukan kebutuhan perbankan. Titik pangkal dari pendekatan ini adalah kemampuan likuiditas. Tetapi karena masalah kecilnya keuntungan untuk melaksanakan pendekatan-pendekatan tersebut maka pendekatan tersebut kurang popular walau masih tetap ada.

Secara umum dapat dikatakan bahwa penyimpanan untuk menjaga masalah likuiditas dapat diklasifikasikan ke dalam empat hal:

  1. Primary reserve (cadangan utama) dapat dikatakan secara mudah sebagai kas suatu kegiatan perbankan atau rekening cadangan yang lebih besar dari legal reserve yang dibutuhkan.

    2.Secoundary reserve (cadangan kedua) terdiri dari federal fund sold atau surat-surat berharga pemerintah jangka pendek (misalnya untuk Indonesia adalah SBI). Dapat ditambahkan disini bahwa surat-surat berharga yang masuk ke dalam klasifikasi ini adalah surat berharga yang harus mempunyai likuiditas bagus (sangat kecil risiko default), jatuh tempo dalam jangka pendek (kurang dari satu tahun), mudah diperjualbelikan.

Fungsi dari secoundary reserve ini adalah untuk menjaga likuiditas terhadap permintaan dana musiman, peningkatan permintaan dana musiman, peningkatan permintaan pinjaman jangka pendek yang tak dapat diramalkan, perkembangan-perkembangan kecil diluar pengamatan.

3. Tertiary reserve (cadangan ketiga)

Tertiary reserve adalah dirancang untuk memenuhi perlindungan likuiditas terhadap perubahan-perubahan jangka panajang seperti peningkatan permintaan pinjaman atau menurunnya deposit yang masuk. surat-surat berharga pemerintah dengan masa jatuh tempo sekitar 1 hingga 2 tahun adalah yang termasuk kedalam klasifikasi ini.

4.Isvestement reserve (cadangan investasi)

Investement reserve adalah cadangan untuk antisipasi likuiditas yang biasanya ditunjukan kepada kemampuan untuk menghasilkan pendapatan. Biasanya yang termasuk kedalam klasifikasi ini adalah surat berharga dengan masa jatuh tempo lebih besar dari dua tahun. Klasifikasi-klasifikasi cadangan ini menyebabkan bank harus melakukan sesuatu investasi portofolio dengan masa jatuh tempo yang berbeda.

Suatu alternatif  lain untuk menyimpan cadangan terhadap bahaya likuiditas adalah dengan melaksanakan liability manajemen. Apa uniknya manajemen likuidity adalah suatu pengaturan pinjaman non tradisional yang diguanakan untuk mendapat dana. Keunikannya adalah tercermin kedalam tingkat bunga, jatuh tempo, dan karakteristik pelayanan yang sangat berbeda dari manajemen liability tradisional yang tidak diatur. Dengan adanya liability manajemen maka bank tidak perlu lagi menyimpan dana terlalu besar, dan bank mempunyai kemungkian lain untuk menempatkan dana agar memperoleh pendanaan. Risiko liquidity manajemen tercermin dari ketidakpastian terhadap jumlah dana yang cukup dan harga dari dana-dana tersebut.

E.  Kebijakan Likuiditas

1.Posisi Cadangan
a. Perencanan posisi cadangan

Perencanaan jangka pendek pada bank komersial (2 minggu), berhadapan dengan posisi cadangan. Manajemen posisi cadangan ini akan tetap ada, karena ada syarat-syarat cadangan dari reserve sistem., yang menunjukan salah satu alat dari kebijakan moneter. Sebagai kesimpulan, manajemen posisi cadangan masih tetap ada, sekalipun syarat-syarat cadangan ini telah dihapus.

b.Tujuan posisi cadangan

Secara operasional, manajemen posisi cadangan memfokuskan minimisasi risiko. Terdapat 3 kerugian yang akan muncul dari risiko manajemen posisi cadangan: kerugian opportunity cost, kerugian tingkat penalty, kerugian pengawasan.

c.Operasi manajemen posisi cadangan

Apapun ukuran bank, manajemen posisi cadangan adalah masalah cash flow. Faktor utama yang menyebabkan posisi cas bank adalah net check clearing-nya. Untuk bank besar dengan kegiatan internasional dan aktivitas koresponden, manajemen posisi cadangan adalah merupakan tugas yang amat besar.

Strategi manajemen posisi cadangan yang beralasan bagi bank untuk diadopsi adalah untuk mencoba menekan dari setengah dari range target cadangan, agar terhindar dari posisi yang tidak balance dari posisi utamanya. Diperkirakan posisi range target adalah langkah yang kritis. Sementara mekanisme langkah ini sama bagi lebanyakan bank, dan tingkat komplemintasnya cendrung berfariasi pada ukuran bank tersebut.

2.Kebijakan Likuiditas pada Bank Kecil

Mc. Kinney (1997), menegaskan bahwa kebutuhan likuiditas yang besar dari bank-bank kecil dapat ditentukan secara akurat dengan analisis worst-case. Scenario worst case memperkirakan kebutuhan likuiditas yang besar dari bank dengan proyeksi permintaan maksimum pinjaman dan penawaran simpanan. Perbedaan antara proyeksi-proyeksi ini menunjukan kebutuhan liquiditas worst case dari bank.

Dalam analisis worst case batas atas trend adalah mengguanakan variabel yang dipakai dari dana bank (pinjaman) dan batas bawah trend adalah menggunakan variabel yang tersedia sebagai dana bank (simpanan). Dengan kebalikan prosedur ini bank dapat memproyeksikan apa posisi yang paling likuid yang dapat diharapkan. Tiga tipe dri trend adalah menarik, menurun, mendarar. Pada setiap situasi batas bawah dan batas atas menunjukan renge pada nilai yang akan datang dari variabel yang diharapkan ada.

F. Strategi Likuiditas

Dalam menjalankan aktifitasnya manajemen dapat melakukan beberpa strategi agar likuiditas bank tetap berjalan dengan baik, strategi tersebut diantaranya:

1.  Strategi Preventif

Strategi prefentif adalah bahwa likuiditas dikelola dengan menjauhi unsur-unsur spekulatif sehingga masalah likuiditas dapat dijauhi. Untuk itu, kaidah-kaidah dalam pengendalian likuiditas harian dan jangka menengah perlu dipenuhi. Adapun prosesnya dapat dijelaskan dibawah ini:

a.Pengendalian Harian
b.Pengendalian Jangka Menengah
c.Pengendalian jangka panjang

2.  Strategi Represif

Walau telah diusahakan dengan strategi prefentif, masalah likuiditas masih mungkin terjadi. Perubahan lingkungan yang cepat mungkin belum dapat diantisipasi oleh pihak bank sehingga strategi yang ada menjadi kurang mengena yang akhirnya dapat menyebabkan terjadinya masalah likuiditas. Apabila hal ini sampai terjadi terdapat berbagai  cara untuk mengatasinya sehingga pihak bank diharap tetap dapat memenuhi kewajiban penarikan kas dari nasabah dan kepercayaan terhadap bank tetap terpelihara.

Beberapa cara atau strategi represif yang diterapkan untuk mengatasi masalah likuiditas dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Meminjam dari pasar uang
b. Mengkonversikan dana valuta asing yang dimiliki
c.Meminjam valuta asing dari pasar internasional
d.Memanfaatkan fasilitas “discount window I”
e.Memanfaatkan fasilitas “discount window II”

PENUTUPAN

  1. Kesimpulan

Likuiditas merupakan suatu hal yang sangat penting bagi bank untuk dikelola dengan baik karena akan berdampak kepada profiitabililitas serta business sustainibility dan continuity. Hal itu juga tercermin dari peraturan bank Indonesia yang menetapkan likuiditas sebagai salah satu dari delapan risiko yang harus dikelola oleh bank.

Konsep likuiditas didalam dunia bisnis diartikan sebagai kemampuan menjual asset dalam waktu singkat dengan kerugian yang paling minimal. Tetapi pengertian likuiditas dalam dunia perbankan lebih kompleks dibanding dengan dunia bisnis secara umum. Dari sudut aktiva, likuiditas adalah kemampuan untuk mengubah seluruh aset menjadi bentuk tunai  (cash), sedangkan dari sudut pasiva, likuiditas adalah kemampuan bank memenuhi kebutuhan dana  melalui peningkatan portofolio liabilitas.

Secara garis besar manajemen likuiditas terdiri dari dua bagian, yaitu; pertama, memperkirakan kebutuhan dana, yang berasal dari penghimpunan dana (deposit inflow) dan untuk penyaluran dana (fund out flow) dan berbagai komitmen pembiayaan (finance commitments).

Bagian kedua dari manajemen likuiditas adalah, bagaimana bank bisa memenuhi kebutuhan likuiditasnya. Oleh karena itu bank harus mampu mengidentifikasi karakteristik  setiap produk bank baik disisi aktiva maupun passiva serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Kelebihan dan kekurangan likuiditas sama-sama memiliki dampak kepada bank. Jika bank terlalu konservatif mengelola likuiditas dalam pengertian terlalu besar memelihara likuiditas akan mengakibatkan profitabilitas bank menjadi rendah walaupun dari sisi  liquidity shortage risk akan aman. Sebaliknya jika bank menganut pengelolaan likuiditas yang agresif maka cenderung akan dekat dengan liquidity shortage risk akan tetapi memiliki  kesempatan untuk memperoleh profit yang tinggi. Shortage liquidity risk akan menyebabkan dampak serius terhadap business contuinity dan business sustainibility.

TUGAS KULIAH : MAKALAH KESEHATAN BANK

MAKALAH

KESEHATAN BANK

Di susun oleh:

Fitiana Arumi (12.05.51.0023)

UNIVERSITAS STIKUBANK (UNISBANK) SEMARANG 2015

BAB I

PENDAHULUAN

Menurut Undang-Undang Nomor  10 Tahun 1998, Bank wajib memeliharan kesehatannya. Kesehatan Bank merupakan cerminan kondisi dan kinerja bank. Selain itu kesehatan bank juga menjadi kepentingan semua pihak terkait, baik pemilik, pengelola dan masyarakat pengguna jasa Bank.

Tingkat kesehatan Bank digunakan sebagai salah satu sarana dalam melakukan evaluasi terhadap kondisi dan permasalahan yang sedang dihadapi oleh Bank serta untuk menentukan tindak lanjut untuk mengatasi permasalahan Bank, baik berupa corrective action oleh Bank maupun supervisory action oleh Bank Indonesia.

Bank merupakan sebuah lembaga keuangan yang eksistensinya tergantung mutlak pada kepercayaan dari nasabahnya. Mengingat Bank adalah bagian dari system keuangan dan system pembayaran, kepercayaan masyarakat kepada bank merupakan unsur pokok terhadap eksistensi  dari suatu Bank. Maka Kesehatan Bank merupakan tolok ukur bagi manajemen untuk menilai apakah pengelolaan bank dilakukan sejalan dengan azas-azas perbankan yang sehat dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tujuan dari tolok ukur tersebut untuk menetapkan arah pembinaan dan pengembangan bank baik secara individual maupun perbankan secara keseluruhan

BAB II

PEMBAHASAN

Pengertian Kesehatan Bank

Menurut Budisantoso dan Triandaru (2005:51) kesehatan bank diartikan “kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan yang berlaku”. Pengertian tentang kesehatan bank tersebut merupakan suatu batasan yang sangat luas, karena kesehatan bank mencakup kesehatan suatu bank untuk melaksanakan seluruh kegiatan usaha perbankannya. Menurut Budisantoso dan Triandaru (2005:51), kegiatan tersebut meliputi:

  1. Kemampuan menghimpun dana dari masyarakat, dari lembaga lain dan modal sendiri;
  2. Kemampuan mengelola dana;
  3. Kemampuan menyalurkan dana ke masyarakat;
  4. Kemampuan memenuhi kewajiban kepada masyarakat, karyawan, pemilik modal, dan pihak lain;
  5. Pemenuhan peraturan perbankan yang berlaku.

Dengan kata lain tingkat kesehatan bank juga erat kaitannya dengan pemenuhan peraturan perbankan (kepatuhan pada Bank Indonesia).

Dasar Hukum Kesehatan Bank

Standar untuk melakukan penilaian kesehatan Bank telah ditentukan oleh pemerintah melalui Bank Indonesia, yaitu berdasarkan Undang-Undang No 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan, pembinaan dan pengawasan Bank dilakukan oleh Bank Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan, pembinaan dan pengawasan bank dilakukan oleh bank Indonesia, menetapkan bahwa :

  1. bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan kecukupan modal, kualitas aset, kualitas manajemen, likuiditas, rentabilitas, solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank, dan wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian;
  2. Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah dan melakukan kegiatan usaha lainnya, bank wajib menempuh cara-cara yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah yang mempercayakan dananya kepada Bank,
  3. Bank wajib menyampaikan kepada Bank Indonesia segala keterangan dan penjelasan mengenai usahanya menurut tata cara yang ditetapkan oleh Bank Indonesia;
  4. Bank atas permintaan Bank Indonesia, wajib memberikan kesempatan bagi pemeriksaan buku-buku dan berkas-berkas milik bank tersebut, serta wajib memberikan bantuan dalam rangka memperoleh kebenaran dari segala keterangan, dokumen, dan penjelasan yang dilaporkan oleh bank tersebut;
  5. Bank Indonesia melakukan pemeriksaan terhadap bank, baik secara berkala maupun setiap waktu apabila diperlukan. Bank Indonesia dapat menugaskan akuntan publik untuk dan atas nama Bank Indonesia melaksanakan pemeriksaan terhadap bank;
  6. Bank wajib untuk menyampaikan kepada Bank Indonesia neraca, perhitungan laba rugi tahunan dan penjelasannya, serta laporan berkala lainnya, dalam waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Neraca dan laporan laba rugi tahunan tersebut wajib terlebih dahulu diaudit oleh akuntan publik;
  7. Bank wajib mengumumkan neraca dan perhitungan laba rugi dalam waktu dan bentuk yang ditetapkan oleh Bank Indonesia.

Peraturan kesehatan bank menekankan bahwa bank di Indonesia memiliki kewajiban untuk melakukan aturan-aturan yang telah disebutkan diatas. Keadaan bank yang tidak sehat akan merusak keadaan perbankan secara keseluruhan dan mengurangi rasa kepercayaan masyarakat. Bank Indonesia sebagai bank sentral mempunyai hak untuk selalu mengawasi jalannya kegiatan operasional bank dengan mengetahui posisi keuangan perbankan agar keadaan perbankan di Indonesia dalam keadaan sehat untuk senantiasa melakukan kegiatannya.

Pelanggaran Aturan Kesehatan Bank

Apabila terdapat penyimpangan terhadap aturan tentang kesehatan bank, Bank Indonesia dapat mengambil tindakan-tindakan tertentu dengan tujuan dasar agar bank bersangkutan menjadi sehat dan tidak membahayakan kinerja perbankan secara umum. Bank Indonesia dapat melakukan tindakan agar :

  1. pemegang saham menambah modal;
  2. Pemegang saham mengganti dewan komisaris dan atau direksi bank;
  3. Bank menghapus bukukan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah yang macet, dan meperhitungkan kerugian bank dengan modalnya;
  4. Bank melakukan merger atau konsolidasi dengan bank lain;
  5. Bank dijual kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh kewajiban;
  6. Bank menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan bank kepada pihak lain;
  7. Bank menjual sebagian atau seluruh harta dan kewajiban bank kepada bank atau pihak lain.

Apabila tindakan tersebut belum cukup untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi bank, dan atau menurut penilaian Bank Indonesia keadaan suatu bank dapat membahayakan sistem perbankan, maka pimpinan Bank Indonesia dapat mencabut izin usaha bank dan memerintahkan direksi bank untuk segera menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham guna membubarkan badan hukum bank dan membentuk tim likuditas. Apabila direksi bank tidak menyeleggarakan Rapat Umum Pemegang Saham, maka pimpinan Bank Indonesia meminta kepada pengadilan untuk mengeluarkan penetapan yang berisikan pembubaran badan hukum bank tersebut, penunjukan tim likuditas, dan perintah pelaksanaan likuditas sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Ketentuan Mengenai Aturan Kesehatan Bank

Tingkat kesehatan BANK dinilai dengan atas berbagai aspek yang berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan suatu BANK, yang meliputi aspek Permodalan, Kualitas Aktiva Produktif, Manajemen, Rentabilitas, dan Likuiditas, (CAMEL) serta mempertimbangkan faktor-faktor yang lain yang dapat menurunkan dan atau menggugurkan TKS.

Dalam melakukan penilaian atas tingkat kesehatan bank pada dasarnya dilakukan dengan pendekatan kualitatif atas berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kondisi dan perkembangan suatu bank. Pendekatan tersebut dilakukan dengan menilai faktor-faktor permodalan, kualitas aktiva produktif, manajemen, rentabilitas dan likuiditas.

Pada tahap awal penilaian tingkat kesehatan suatu bank dilakukan dengan melakukan kuantifikasi atas komponen dari masing-masing factor tersebut. Faktor dan komponen tersebut selanjutnya diberi suatu bobot sesuai dengan besarnya pengaruh terhadap kesehatan suatu bank.

Selanjutnya, penilaian faktor dan komponen dilakukan dengan system kredit yang dinyatakan dalam nilai kredit antara 0 sampai 100. Hasil penilaian atas dasar bobot dan nilai kredit selanjutnya dikurangi dengan nilai kredit atas pelaksanaan ketentuan-ketentuan yang lain yang sanksinya dikaitkan dengan tingkat kesehatan bank.

Tahap selanjutnya mengevaluasi kembali dengan memperhatikan informasi dan aspek-aspek lain yang secara materiil seperti pelanggaran dan atau pelampauan terhadap ketentuan BMPK, pelanggaran ketentuan Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (KYC), pelanggaran ketentuan transparansi informasi produk BPR dan penggunaan data pribadi nasabah.

Faktor-faktor yang dapat menggugurkan penilaian tingkat kesehatan BANK menjadi Tidak Sehat yaitu perselisihan intern, campur tangan pihak di luar manajemen BANK, window dressing, praktek Bank dalam bank (Bank in Bank), kesulitan keuangan, praktek perbankan lain yang dapat membahayakan kelangsungan usaha BANK.

Pertimbangan tersebut dapat berpengaruh terhadap perkembangan masing-masing faktor. Pada akhirnya, akan diperoleh suatu angka yang dapat menentukan predikat tingkat kesehatan bank, yaitu Sehat, Cukup Sehat, Kurang Sehat dan Tidak Sehat.

Penilaian Tingkat Kesehatan Bank

Penilaian tingkat kesehatan bank secara kuantitatif dilakukan terhadap 5 faktor, yaitu faktor Permodalan (Capital), Kualitas Aktiva Produktif (Asset), Manajemen, Rentabilitas (Earning) dan Likuiditas. Analisis ini dikenal dengan istilah Analisis CAMEL.

Berikut ini penjelasan metode CAMEL :

  • Aspek Permodalan (CAPITAL),
    Penilaian pertama adalah aspek permodalan, dimana aspek ini menilai permodalan yang dimiliki bank yang didasarkan kepada kewajiban penyediaan modal minimum bank.
    Penilaian tersebut didasarkan paa CAR (Capital Adequacy Ratio) yang ditetapkan BI,
    yaitu perbandingan antara Modal dengan Aktiva Tertimbang Menurut Resiko.
  • Aspek Kualitas Aktiva Produktif (ASSET),
    Aktiva produktif atau Productive Assets atau sering disebut dengan Earning Assets
    adalah semua aktiva yang dimiliki oleh bank dengan maksud untuk dapat memperoleh
    penghasilan sesuai dengan fungsinya. Ada empat macam jenis aktiva produktif yaitu :
    Kredit yang diberikan
    b. Surat berharga
    c. Penempatan dana pada bank lain
    d. Penyertaan
    Penilaian aset, sesuai dengan Peraturan BI adalah dengan membandingkan antara aktiva produktif yang diklasifikasikan dengan aktiva produktif. Selain itu juga rasio penyisihan penghapusan aktiva produktif terhadap aktiva produktif yang diklasifikasikan. Klasifikasi aktiva produktif merupakan aktiva produktif yang telah dilihat kolektabilitasnya, yaitu lancar, kurang lancar, diragukan dan macet.
  • Aspek Kualitas Manajemen (MANAGEMENT),
    Aspek ketiga penilaian kesehatan bank meliputi kualitas manajemen bank. Untuk menilai kualitas manajemen akan mengajukan 250 pertanyaan yang menyangkut manajemen
    bank yang bersangkutan. Kualitas ini juga akan melihat dari segi pendidikan serta
    pengalaman para karyawannya dalam menangani bebagai kasus yang terjadi.
  • Aspek Rentabilitas (EARNING),
    Penilaian aspek ini diguankan untuk mengukur kemampuan bank dalam meningkatkan
    keuntungan, juga untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai bank yang bersangkutan. Penilaian ini meliputi ROA atau Rasio Laba terhadap Total Aset, dan Perbandingan antara biaya operasional dengan pendapatan operasional
    (BOPO)
  • Aspek Likuiditas (LIQUIDITY),
    Aspek kelima adapah penilaian terhadap aspek likuiditas bank. Suatu bank dukatakan
    likuid, apabila bank yangbersangkutan mampu membayar semua hutangnya, terutama
    hutang-hutang jangka pendek. Selain itu juga bank harus mampu memenuhi semua
    permohonan kredit yang layak dibiayai.
    Penilaian dalam aspek ini meliputi :
    Rasio kewajiabn bersih Call Money terhadap Aktiva Lancar
    b. Rasio kredit terhadap dana yang diterima oelh bank seperti KLBI, Giro,
    Tabungan, deposito dan lain-lain.

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

  • Kesehatan Bank dapat diartikan kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai dengan peraturan yang berlaku.
  • Dasar Hukum Kesehatan Bank adalah Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perbankan, pembinaan dan pengawasan bank dilakukan oleh Bank Indonesia.
  • Aspek-aspek penilaian kesehatan Bank meliputi Aspek permodalan (Capital), Kualitas Aset (Asset Quality), Manajemen (Management), Profitabilitas (Earnings), Likuiditas (Liquidity), Sensitivitas terhadap resiko pasar (Sensitivity to Market Risk).

DAFTAR PUSTAKA

  • Budisantoso, Totok dan Sigit Triandaru. 2006. Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Jakarta: Salemba Empat.
  • 2011. Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Pasar Valuta Asing

  1. Pengertian

Foreign Trading (Perdagangan Valuta Asing)

Perdagangan valuta asing atau sering disebut forex trading mulai berkembang pada era 1970-an dan dianggap menjadi salah satu bisnis alternatif karena dapat mendatangkan keuntungan pelakunya. Valuta asing sangat erat kaitannya dengan pertukaran mata uang sehingga kegiatan perekonomian dunia tidak dapat dipisahkan dengan perdagangan valuta asing.

Foreign Exchange (Valuta Asing)

Valuta asing atau yang biasa disebut dengan valas, atau yang dalam bahasa asing dikenal dengan foreign exchange (Forex) merupakan mata uang yang di keluarkan sebagai alat pembayaran yang sah di negara lain. Valuta asing akan mempunyai suatu nilai apabila valuta tersebut dapat ditukarkan dengan valuta lainnya tanpa pembatasan.

Valuta asing adalah mata uang luar negeri, seperti dolar Amerika, poundsterling Inggris, ringgit Malaysia, dan sebagainya. Apabila antar Negara terjadi perdagangan internasional, maka tiap Negara membutuhkan valuta asing untuk alat bayar luar negeri, yang dalam dunia perdagangan disebut devisa. Misalnya, eksportir Indonesia akan memperoleh devisa dari hasil ekspornya, sebaliknya importer Indonesia memerlukan devisa untuk mengimpor dari luar negeri.

Foreign Market (Pasar Valuta Asing)

Pasar valuta asing adalah pasar yang memfasilitasi pertukaran valuta untuk mempermudah transaksi-transaksi keuangan perdagangan dan keuangan internasional.

  1. Penyebab timbulnya Foreign Trading (Perdagangan Valuta Asing)

Beberapa faktor yang menyebabkan perdagangan valas berkembang pesat di antaranya adalah aktivitas perdagangan antarnegara, keinginan untuk mendapatkan keuntungan dari pergerakan nilai tukar, dan perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan bagi siapa saja untuk melakukan transaksi mata uang asing.

  1. Penyebab timbulnya Foreign Market (Pasar Valuta Asing)
  2. Pergerakan nilai valuta asing yang mengalami pergerakan cukup signifikan sehingga menarik bagi beberapa kalangan tertentu untuk berkecimpung di dalam pasar valuta asing.
  3. Bisnis yang semakin mengglobal. Dengan semakin sengitnya persaingan bisnis membuat perusahaan harus mencari sumber daya baru yang lebih murah, dan tersebar di seluruh dunia sehingga menimbulkan permintaan akan mata uang suatu negara tertentu.
  4. Perkembangan telekomunikasi yang begitu cepat dengan adanya sarana telepon, telex, faaximile, internet maka memudahkan para pelaku pasar untuk berkomunikasi sehingga transaksi lebih mudah di lakukan.
  5. Keuntungan yang di peroleh di pasar valuta yang cenderung besar meningkatakan keinginan berbagai pihak berusaha memperoleh gain dari pergerakan valuta asing.
  1. Karakteristik Foreign Market (Pasar Valuta Asing)

Dengan adanya transaksi diluar bursa (over the counter) sebagai pasar tradisional dari perdagangan valuta asing, banyak sekali pasar valuta asing yang saling berhubungan satu sama lainnya dimana mata uang yang berbeda diperdagangkan, sehingga secara tidak langsung artinya bahwa “tidak ada kurs tunggal mata uang dollar melainkan kurs yang berbeda-beda tergantung pada bank mana atau pelaku pasar mana yang bertransaksi”. Namun dalam prakteknya perbedaan tersebut seringkali sangat tipis.

Sangat sedikit atau bahkan tidak ada “perdagangan orang dalam” (insider trading) yang terjadi dalam pasar valuta asing. Fluktuasi kurs nilai tukar mata uang biasanya disebabkan oleh gejolak aktual moneter seperti ekspektasi pasar terhadap gejolak moneter yang disebabkan oleh perubahan dalam pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB/GDP), inflasi, suku bunga, rancangan anggaran dan defisit perdagangan atau surplus perdagangan, penggabungan dan akuisisi serta kondisi makro ekonomi lainnya. Berita utama selalu dipublikasikan untuk umum, sehingga banyak orang dapat mengakses berita tersebut pada saat yang bersamaan. Namun bank-bank besar memiliki nilai lebih yang cukup penting yaitu mereka dapat melihat arus pergerakan “pesanan” mata uang dari nasabahnya.

Mata uang diperdagangkan satu sama lainnya dan setiap pasangan mata uang merupakan suatu produk tersendiri seperti misalnya EUR/USD, USD/JPY, GBP/USD dan lain-lain. Faktor yang berpengaruh pada salah satu mata uang misalnya USD akan juga mempengaruhi nilai pasar pada EUR/USD, USD/JPY dan GBP/USD.

  1. Sarana yang di gunakan Foreign Market (Pasar Valuta Asing)

SARANA YANG DIGUNAKAN

  1. Telepon
  2. Fax
  3. Internet
  4. Reuter Monitor Dealing Screen (RMDS)

Setelah terjadi trading baru dilakukan konfirmasi per surat (mail confirmation) atau menggunakan Message Type (MT) dalam SWIFT. Ada 10 jenis/kategori transaksi yang digunakan dalam SWIFT, mulai dari kategori 0 sampai kategori 9. Khusus untuk transaksi Forex SWIFT yang digunakan adalah MT 202 transfer dana dan MT300 sebagai konfirmasi atas transaksi Forex yang dilakukan.

  1. Pelaksanaan transaksi Foreign Market (Pasar Valuta Asing)

Di bursa valas ini orang dapat membeli ataupun menjual mata uang yang diperdagangkan. Secara obyektif adalah untuk mendapatkan profit atau keuntungan dari posisi transaksi yang dilakukan.

Transaksi di valuta asing dapat dilakukan dengan cara dua arah dalam mengambil keuntungannya. Seseorang dapat membeli dahulu (open buy), lalu ditutup dengan menjual (sell) ataupun sebaliknya, melakukan penjualan dahulu, lalu ditutup dengan membeli.

  1. Yang terlibat dalam Foreign Market (Pasar Valuta Asing)

Pelaku Valas

Pergerakan nilai valuta asing yang selalu berubah-ubah dari waktu ke waktu karena hukum demand dan supply selalu melibatkan berbagai pelaku pasar yang mempunyai berbagai kepentingan. Pelaku pasar tersebut antara lain adalah :

  1. Dealer

Dealer pada umumnya disebut juga sebagai market maker yang berfungsi sebagai pihak yang membuat pasar bergairah di pasar uang. Dealer umumnya mengkhususkan pada mata uang tertentu dan menetapkan tingkat persediaan tertentu pada mata uang tersebut. Biasanya yang bertindak sebagai dealer adalah pihak bank, meskipun ada juga beberapa yang nonbank. Mereka mendapatkan keuntungan dari selisih harga jual dan harga beli valuta asing.

  1. Perusahaan

Untuk meningkatkan daya saing dan menekan biaya produksi perusahaan selalu melakukan eksplorasi terhadap berbagai sumber-sumber daya yang baru dan yang lebih murah. Bisanya kita menyebut kegiatan ini dengan kegiatan impor. Dan perusahaan juga akan selalu melakukan kegiatan eksplorasi market untuk memperluas jaringan distribusi barang dan jasa yang telah di produksi oleh perusahaan tersebut yang pada akhirnya akan timbul pendapatan dalam mata uang lain. Biasanya kita menyebut kegitatan tersebut dengan ekspor. Karena ada kegiatan impor dan ekspor inilah perusahaan kadang memerlukan mata uang negara lain dengan jumlah yang cukup besar.

  1. Individu

Masyarakat atau perorangan dapat melakukan transaksi valuta asing di sebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang pertama adalah kegiatan spekulasi, yaitu dengan memanfaatkan fluktuasi pergerakan nilai valuta asing untuk memperoleh keuntungan. Faktor kedua adalah kebutuhan konsumsi pada saat berada di luar negeri. Contoh saja ada sebuah keluarga yang melakukan perjalanan keluar negeri sebut saja negara Amerika. Pada saat mereka akan melakukan kegiatan konsumsi di Amerika maka mereka tidak bisa membayarnya dengan rupiah karena mata uang yang berlaku di Amerika adalah dolar Amerika, sehingga mereka mau tidak mau harus menukarkan uangnya terlebih dahulu ke dalam dolar Amerika. Contoh lainnya adalah seorang ayah yang akan membiayai sekolah anaknya di Australia maka sang ayah harus menukarkan uangnya kedalam bentuk Australian dolar terlebih dahulu.

  1. Bank Umum

Bank umum melakukan transaksi jual beli valas untuk berbagai keperluan antara lain melayani nasabah yang ingin menukarkan uangnya kedalam bentuk mata uang lain. Untuk memenuhi kewajibannya dalam bentuk valuta asing.

  1. Pialang Pasar valas atau Broker

Broker adalah perusahaan yang menjadi perantara terjadinya transaksi valuta asing. Mereka membantu kita untuk mencarikan pembeli ataupun penjual.

  1. Pemerintah

Pemerintah melakukan transaksi valuta asing untuk berbagai tujuan antara lain membayar hutang luar negeri, menerima pendapatan dari luar negeri yang harus di tukarkan lagi kedalam mata uang local.

  1. Bank Sentral

Di banyak negara bank sentral adalah lembaga independent yang bertugas menstabilkan mata uangnya. Biasanya bank sentral melakukan jual beli valuta asing dalam rangka menstabilkan nilai tukar mata uangnya yang biasa disebut dengan kegiatan intervensi.

  1. Spekulan dan Arbitraser

Arbitraser adalah orang yang mengeksploitasi perbedaan kurs antar valas. Peran serta Spekulan dan arbitraser dalam pasar valas semata-mata didorong oleh motif mengejar keuntungan. Mereka justru menuai laba dari fluktuasi drastis yang terjadi di pasar valas. Dengan kata lain, mereka tidak mempunyai transaksi bisnis atau komersial yang perlu dilindungi di pasar valas.

  1. Faktor – faktor yang mempengaruhi Foreign Rate (Kurs Valas)

Karena sifatnya yang selalu mengalami perubahan, ada beberapa faktor penting yang memiliki pengaruh besar terhadap perubahan dalam kurs pertukaran, yaitu sebagai berikut.

  1. Perubahan dalam Citarasa Masyarakat

Perubahan ini akan memengaruhi permintaan. Jika penduduk suatu negara lebih menyukai barang-barang dari negara lain, permintaan atas mata uang negara lain tersebut bertambah. Perubahan seperti itu memiliki kecenderungan untuk menaikkan nilai mata uang negara lain.

  1. Perubahan Harga dari Barang-Barang Ekspor

Jika barang-barang ekspor mengalami kenaikan, kenaikan tersebut akan memengaruhi permintaan barang ekspor dan kurs valuta asing sehingga akan menjatuhkan nilai uang negara yang mengalami kenaikan barang ekspor.

  1. Kenaikan Harga-Harga Umum (Inflasi)

Di satu pihak, kenaikan harga-harga akan menyebabkan penduduk negara tersebut semakin banyak mengimpor dari negara lain. Oleh karena itu, permintaan atas valuta asing akan bertambah. Di lain pihak, ekspor negara tersebut bertambah mahal dan akan mengurangi permintaannya sehingga akan menurunkan penawaran valuta asing.

  1. Perubahan dalam Tingkat Bunga

Tingkat Pengembalian Investasi Tingkat bunga dan tingkat pengembalian investasi sangat memengaruhi jumlah serta arah aliran modal jangka panjang dan jangka pendek. Tingkat pendapatan investasi yang lebih menarik akan mendorong pemasukan modal ke negara tersebut sehingga penawaran valuta asing yang bertambah akan menaikkan nilai mata uang negara yang menerima modal tersebut.

  1. Perkembangan Ekonomi

Jika valuta asing dipengaruhi oleh perkembangan ekspor, penawaran valuta asing akan bertambah dan menaikkan nilai mata uang. Sebaliknya, jika dipengaruhi oleh hal-hal di luar ekspor, akan menurunkan nilai mata uang asing.

  1. Jenis pengaruh fluktuasi kurs valas
  2. Transaction exposure

Pengaruh fluktuasi kurs valas terhadap future cash transaction

  1. Economic/operating exposure

Pengaruh fluktuasi kurs valas terhadap PV dari future C/F, sehingga dapat dikatakan transaction exposure merupakan bagian dari economic exposure

  1. Translation/accounting exposure (incl. Tax exposure)

Risiko fluktuasi kurs valas terhadap consolidated financial statement perusahaan

  1. Hubungan Pasar Valas dan Pasar Uang

Kondisi perekonomian adakalanya kurang baik, investor Pasar Uang harus selalu memperhatikan apa yang terjadi di Pasar Valas, agar memperoleh keuntungan yang optimal.

  1. Jenis – jenis transaksi

Ada dua jenis transaksi valuta asing, yaitu:

  1. Transaksi spot

Terdiri dari transaksi valas yang biasanya selesai dalam maksimal dua hari kerja. Di pasar valuta internasional, jarang transaksi dilakukan untuk tanggal valuta yang sama (value to day). hanya sedikit bank yang dapat memberikan pelayanan transaksi value to day. kesulitan ini disebabkan oleh sempitnya waktu bagi bank untuk menyelesaikan pembayarannya.

Transaksi spot merupakan transaksi mata uang yang dilakukan dengan segera dan secepatnya, sehingga waktu yang digunakan untuk transaksi paling lama dua hari kerja. bagi transaksi dengan nilai kecil, transaksi yang dilakukan memungkinkan untuk dilakukan dalam satu hari, sedangkan dalam jumlah besar dan perlu adanya negoisasi antar bank (baik antar bank di domestik atau dengan bank lain di luar negeri), transaksi ini dilakukan dengan acuan batas waktu pembayaran dan penerimaan dalam dua hari kerja, Jadi spot dapat didefinisikan sebagai transaksi jual beli mata uang dengan kesepakatan pembayaran dan penerimaan maksimal dua hari kerja.

Dalam pasar spot, dibedakan tiga jenis transaksi:

  1. Cash, di mana pembayaran satu mata uang dan pengiriman mata uang lain diselesaikan pada hari yang sama.
  2. Tom, (kependekan dari tomorrow/besok), dimana pengiriman dilakukan pada hari berikutnya.
  3. Spot, dimana pengiriman diselesaikan dalam tempo 48 jam setelah perjanjian.
  4. Transaksi forward

merupakan transaksi valas dimana pengiriman mata uang dilakukan pasa suatu tanggal tertentu dimasa mendatang. Kurs di mana transaksi forwad akan diselesaikan telah ditentukan pada saat kedua belah pihak menyetujui kontrak untuk untuk membeli dan menjual. Transaksi forwad biasanya terjadi bila eksportir, importir dan pelaku ekonomi lain yang terlibat dalam pasar valuta asing harus membayar atau menerima sejumlah mata uang asing pada waktu tertentu di masa mendatang.

Tujuan Melakukan Transaksi Valas

Transaksi valas baik yang dilakukan oleh bank, perusahaan lainnya ataupun individu mengandung beberapa tujuan. Tujuan ini berbeda-beda dengan apa yang ingin diperoleh dari transaksi tersebut.

Ada beberapa tujuan dalam melakukan transaksi valas baik yang dilakukan oleh perusahaan / badan maupun individu adalah sebagai berikut :

  1. Untuk transaksi pembayaran
  2. Mempertahankan daya beli
  3. Pengiriman ke luar negeri
  4. Mencari keuntungan.
  1. Bid dan Offer Rate

Dalam transaksi, harga beli dan harga jual dari suatu valuta asing dinyatakan dalam kuotasi bid/ask atau bid/offer. Bid adalah tingkatan harga dimana pedagang valuta asing bersedia untuk membeli, sedangkan ask atau offer adalah tingkatan harga dimana pedagang valuta asing bersedia untuk menjual (jadi sederhananya “bid adalah kesediaan kita untuk membeli atau open posisi beli, sedangkan ask atau offer adalah kesediaan kita untuk menjual atau open posisi jual”). Penting untuk diingat bahwa kuotasi kurs bid/ask bersifat resiprokal, artinya pembelian suatu valuta asing diikuti dengan penjualan valuta asing lainnya.

Contoh: kurs USD/CHF 1.7054/1.7057 berarti bahwa kita dapat membeli 1 USD dari pedagang valuta asing dengan 1.7057 CHF (Swiss Francs) atau menjual 1 USD dengan 1.7054 CHF. Jadi, jika kita membeli USD secara otomatis kita akan menjual CHF ( membeli USD dengan menggunakan CHF = menerima USD dan kehilangan CHF) . Jika kita menjual USD, kita otomatis akan membeli CHF (menjual USD  dengan menggunakan CHF = kehilangan USD dan menerima CHF). Dengan demikan, bid adalah tingkat harga dimana kita dapat menjual base currency (dan pada saat bersamaan membeli counter currency), sedangkan offer adalah tingkat harga dimana kita dapat membeli base currency (dan pada saat bersamaan menjual counter currency).

Daftar istilah penting dalam MANAJEMEN KEUANGAN / AKUTANSI (A-C)

1. Accelerated Depreciation (Penyusutan Dipercepat) : Metode pengalokasian harga pokok suatu aktiva yang semakin menurun, artinya pembebanan biaya yang lebih besar pada awal-awal tahun. Metode penyusutan yang dipercepat itu seperti berupa (a) metode jumlah angka tahun [sum of the years digit method], (b) double decline balance method.
2. Accruals (Aktrual) : Kewajiban jangka pendek yang terjadi berulang terus menerus. Sebagai contoh adalah utang upah, utang pajak, dan bunga berutang. Didalam nerasa biasanya disebut biaya-biaya yang masih harus dibayar pada kelompok utang lancer.
3. Aging Schedule (Shedul Umur Piutang) : Suatu laporan yang menunjukan lama umur piutang (jangka waktu piutang).
4. Amortised (Amostisasi) : Pembayaran kembali pokok pinjaman dalam bentuk angsurann selama jangka waktu pinjaman.
5. Annuity (Anuitas) : Serangkaian pembayaran (penerimaan) dalam jumlah tetap selama beberapa tahun tertentu.
6. Arbitrage (Arbitrase) : Proses penjualan aktiva yang dinilai terlalu tinggi dan pembelian aktiva yang dinilai terlalu rendah agar supaya terjadi keseimbangan dimana semua aktiva dinilai secara wajar. Orang yang memalukan arbitrase disebut dengan arbitrator.
7. Assignment (Penyerahan Hak) : Suatu cara yang relative tidak mahal dalam melikuidasi perusahaan yang macet, tanpa melalui proses pengadilan.
8. Anggaran : Suatu rencana yang dinyatakan dalam unit moneter yang berfungsi sebagai alat perencanaan, pengendalian dan pengawasan.
9. Break Event Analysis : Suatu teknik analisis yang sering disebut juga dengan cost pofit volume analysis yaitu untuk mempelajari hubungan antara biaya-volumelaba.
10. Bussines Risk (Resiko Bisnis) : Resiko yang berasal dari sifat dasar produk yang dijual perusahaan dan dari tingkat leverage operasi yang dipergunakan oleh perusahaan.
11. Call Option : Suatu hak pembelian kembali (melakukan call) atas suatu aktiva pada harga tertentu selama periode waktu tertentu. Call Option juga berarti suatu proses pembelian kembali obligasi atau saham preferen sebelum jatuh tempo yang normal.
12. Characteristic Line (Garis Karakteristik) : Suatu garis regresi yangmenunjukan hubungan antara kentungan periodic atas suatu surat berharga dengan keuntungan periodic portofolio pasar. Koefisien arah garis ini merupakan penaksir beta dari surat berharga tersebut yang mengukur besarnya systematic risk.
13. Call Premium : Kelebihan jumlah pembayaran kembali yang melebihi nilai nominal yang harus dibayar perusahaan jika surat berharga itu diserahkan.
14. Call Price : Harga yang harus dibayar jika suatu surat berharga diserahkan. Harga Call Price itu sebesar dengan nilai nominal ditambah dengan premi Call Option.
15. Capital Asset : Suatu aktiva yang memiliki umur ekonomis lebih dari satu tahun yang tidak diperdagangkan dalam kehiatan bisnis sehari-hari.
16. Capitall Asset Pricing Model (CAPM) : Suatu teori penetapan harga akitva yang tingkat penngembalian dari aktiva / surat berharga tersebut adalah sebesar tingkat bunga bebas resiko ditambah dengan factor penyesuaian sebesar risk premium dikalikan dengan resiko sistematik aktiva itu sendiri (yang tidak dapat dihilangkan melalui diversifikasi).
17. Capital Budgeting : Proses perencanaan investasi pada suatu aktiva, yang pengembaliannya diharapkan berlangsung lebih dari satu tahun.
18. Capital Gains : Keuntungan yang diperoleh dari penjual aktiva modal atau selisih harga jual dan harga beli surat berharga.
19. Capital Losses : Kerugian atas penjualan aktiva modal.
20. Capital Market Line, CML (Garis Pasar Modal) : Suatu garis yang menunjukan hubungan anatar risiko dengan tingkat pengembalian yang disyaratkan pada suatu portofolio yang efisien.
21. Capital Market (Pasar Modal) : Transaksi keuangan yang menyangkut instrument keuangan jangka pangjang atau tempat bertemunya pihak yang surplus dana dan pihak yang deficit dana.
22. Capital Structure (Struktur Modal) : Perimbangan pembiayaan perusahaan jangka panjang permanen yang dicerminkan oleh utang jangka panjang, saham preferen dan modal sendiri (modal sendiri terdiri dari modal saham, surplus modal dan laba ditahan). Unsur modal dibedakan dengan struktur keuangan yang memasukan unsir utang jangka pendek dan semua kewajiban lainnya.

Perilaku Organisasi (Bab 1)

Devinisi Perilaku Organisasi (Organizaional Bahavior) adalah suatu studi  yang mempelajari  aspek-aspek tingkah laku seseorang dalam suatu organisasi atau kelompok tertentu yang mencakup dampak dari pengaruh yang di timbulkan oleh organisasi terhadap individu tersebut dan struktur pada prilaku dalam organisasi dengan maksud menerapkan pengetahuan tentang hal – hal tersebut demi perbaikan efektivitas organisasi.

Selain itu ada juga yang mengatakan bahwa Perilaku Organisasi adalah interaksi manusia dalam organisasi, meliputi studi secara sistimatis tentang prilaku, struktur dan proses dalam Organisasi.

Pendekatan studi perilaku organisasi :

1. Kognitif  (menurut Edward Tolman), berdasarkan pemahaman seseorang terhadap informasi.

2. Bahavioristic  (menurut I.P. Pavlov dan J.B. Watson), berdasarkan Response yang muncul apabila diberi stimulus tertentu.

3. Social Learning (menurut A. Bandura), berdasarkan penggabungan pendekatan Cognitif dan behavioristic.

Tingkat Analisis dalam Prilaku Organisasi

Kejadian-kejadian atau permasalahan yang terjadi dalam organisasi dapat dianalisis dari tiga tingkatan analisis, yaitu : tingkat individu, kelompok dan organisasi.

a.       pada tingkat individu, kejadian yang terjadi dalam organisasi dianalisis dalam hubungannya dengan perilaku seseorang dan interaksi kepribadian dalam suatu situasi. Masing-masing orang dalam organisasi memiliki sikap, kepribadian, nilai dan pengalaman yang berbeda bedayang mempengaruhinya dalam berperilaku.

b.      Pada tingkat kelompok, perilaku anggota kelompok dipengaruhi oleh dinamika anggota kelompok, aturan kelompok, aturan kelompok dan nilai-nilai yang dianut oleh kelompok.

c.       Pada tingkat organisasi, kejadian-kejadian yang terjadi dalam kontek struktur organisasi, struktur dan posisi seseorang dalam organisasi membawa pengaruh pada setiap interaksi sosial dalam
organisasi.

Selain itu Faktor lingkungan eksternal juga memiliki pengaruh yang kuat pada masing-masing tingkatan analisis. Misalnya rendahnya produktivitas, karyawan yang malas/tidak masuk kerja. Kelambanan dalam penyelesaian unjuk rasa dan dipihak lain banyaknya desakan factor lingkungan yang mempengaruhi efektifitas organisasi, seperti: Tuntutan konsumen akan produk yang berkualitas tinggi, persaingan yang bersifat global, fluktuasi ekonomi, tuntutan gaya hidup dll.

KARAKTERISTIK DALAM PERILAKU ORGANISASI

a.       Perilaku, fokus dari perilaku keeorganisasian adalah perilaku individu dalam organisasi, oleh karenanya harus mampu memahami perilaku berbagai individu dan organisasi.

b.      Struktur, Struktur berkaitan dengan hubungan yang bersifat tetap dalam organisasi, bagaimana pekerjaan dalam organisasi dirancang, dan bagaimana pekerjaan diatur. Struktur Organisasi berpengaruh besar terhadap perilaku individu atau orang dalam organisasi serta efektifitas organisasi.

c.       Proses, proses organisasi berkaitan dengan interaksi yang terjadi antara anggota organisasi. Proses organisasi meliputi : komunikasi, kepemimpinan, proses pengambilan keputusan dan kekuasaan. Salah satu pertimbangan utama dalam merancang struktur organisasi adalah agar
berbagai proses tersebut dapat berjalan secara efektif dan efisien.

Tujuan dari mempelajari Perilaku Organisasi :

  1. Memahami perilaku yang terjadi dalam organisasi.
  2. Dapat meramalkan kejadian-kejadian yang terjadi.
  3. Dapat mengendalikan perilaku-perilaku yang terjadi dalam organisasi.
  4. Memperlancar upaya pencapaian tujuan organisasi
  5. Memperbaiki efektifitas kinerja organisasi.

Hubungan Perilaku Oreganisasi dan Psikologi Industri

Keduanya berfokus pada penjelasan tentang perilaku manusia dalam organisasi namun Psikologi Industri berangkat dari psikologi, sementara Perilaku Organisasi bersifat multidisiplin. Perbedaan terdapat pada basis keilmuan dan lingkup kajiannya.

Hubungan Perilaku Organisasi dan Teori Organisasi
Perilaku organisasi mempelajari perilaku individu / kelompok dalam organisasi dan aplikasinya (analisis Mikro) sedangkan Teori organisasi mempelajari struktur, proses dan performansi organisasi (analisis Makro). Perbedaannya terdapat pada unit analisis dan objek kajian.
Hubungan Perilaku  Organisasi dan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM)
Perilaku organisasi dianggap lebih mendasar (teoritis; berdasar pada konsep) sedangkan Manajemen sumber daya manusia lebih terapan dengan fokus pada teknik pengelolaan sumber daya manusia. Perbedaannya terdapat pada pendekatan yang digunakan oleh keduanya.

 Sumber :

1. Catatan kuliah pribadi

2. http://stiem.blogspot.com/2009/04/perilaku-keorganisasian.html

3. http://obsessedsyndrome.wordpress.com/2012/03/25/perilaku-organisasi-bab-1-dan-2/